Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Partisipasi Aktif Women Research Institute pada Global Forest Watch Summit 2019 di Washington, DC

    Global Forest Watch Summit 2019 merupakan acara pertemuan lembaga-lembaga praktisioner dan inovator di bidang monitoring hutan yang telah diselenggarakan pada 18-19 Juni 2019 di Marvin Center, George Washington University. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan komunitas yang berdedikasi untuk mengimplementasikan pendekatan monitoring yang berbasis teknologi dalam melihat perkembangan pengelolaan hutan, konservasi dan restorasi.   Women Research Institute yang merupakan mitra dari World Resources Institute diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatatan GFW Summit dan mendapatkan berbagai pengalaman berupa berjejaring, dan membagikan serta bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait alat monitoring hutan kepada lembaga mitra World Resources Institute lain.

Artikel ini adalah ringkasan dari salah satu studi kasus mengenai masalah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan reproduksi dan ibu melahirkan. Studi kasus diambil dari 7 Kabupaten, yaitu Indramayu, Kota Surakarta, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Lebak. Di sini dipaparkan kisah kehidupan Tuminah di Desa Pekandangan Jaya, Kecamatan Indramayu.

 

Tuminah (35 tahun) adalah anak pertama dari 6 bersaudara, 2 diantaranya sudah meninggal. Ibu Tuminah menikah sebanyak 6 kali dan semuanya berakhir dengan perceraian setelah bertahan rata-rata selama 1-2 tahun saja. Tuminah mengaku dirinya tidak mengenal ayahnya secara dekat karena dari lahir dia hanya dibesarkan oleh ibunya, dia hanya mengingat banyak lelaki yang menjadi teman ibunya dan kemudian memberinya anak. Tidak terlalu jelas baginya apakah ibunya menikah secara resmi atau secara agama (sirri) dengan bapak-bapaknya itu. Dari masing-masing perkawinannya itu, ibu Tuminah memiliki anak, sehingga Tuminah memiliki 4 orang adik, dua orang laki-laki dan dua orang lagi perempuan dari ayah yang berbeda-beda, namun hanya Tuminah saja yang tinggal dan dirawat oleh ibunya hingga dia berhasil menamatkan sekolah dasar.

 

Setelah menamatkan pendidikan sekolah dasarnya, Tuminah dihadapkan pada kebutuhan ekonomi yang sangat mendesak sehingga memaksa Tuminah akhirnya terjun membantu mencari nafkah bagi keluarganya. Tuminah memiliki pengalaman bekerja yang beragam mulai dari bekerja sebagai buruh cuci serabutan, pembantu rumah tangga harian, menjadi TKW, bahkan pernah menjadi korban trafficking dipekerjakan sebagai PSK di Batam.

 

Bekerja sebagai TKW dilakukan Tuminah pada usia yang sangat muda yakni 13 tahun, karena didesak oleh uwaknya (paman) dan keluarga dekat ibunya untuk mau bekerja sebagai TKW di luar negeri agar bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya menjadi lebih baik. Selain itu juga untuk memperoleh dana bagi renovasi rumah tinggalnya yang hampir roboh. Tuminah menuruti keinginan paman dan ibunya bekerja sebagai TKW ke Arab Saudi selama 4 bulan, tiap bulan digaji sekitar 600.000 rupiah. Dia dikirim ke Arab Saudi oleh pamannya yang bekerja sebagai calo TKW. Di saudi Arabia, Tuminah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pekerjaan sebagai TKW tidak lama dilakukan karena Tuminah merasa tidak kuat dan rindu pada kampung halaman.

 

Sepulangnya dari Saudi Arabia, Tuminah kembali bergelut dengan kesulitan ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan dengan latar belakang pendidikannya yang rendah. Hal itu membuat Tuminah terdorong untuk menerima kembali tawaran bekerja, namun ternyata dia menjadi korban penipuan calo yang menawarkan bantuan padanya untuk menjadi PRT di Batam. Sesampainya di Batam Tuminah justru dipaksa bekerja sebagai PSK. Dia tak kuasa menolak karena terbebani kewajiban melunasi hutang bagi pembiayaannya pergi ke Batam sebesar Rp 2 juta rupiah, sehingga terpaksa Tuminah menjalani pekerjaan sebagai PSK selama 2 bulan hingga mampu mengumpulkan uang untuk membayar hutangnya kepada sang calo. Setelah hutangnya lunas barulah Tuminah dapat pulang kembali ke Indramayu. Selama bekerja sebagai PSK di Batam, Tuminah mengakui mengalami keluhan yang terkait dengan organ reproduksinya yakni keputihan, rasa panas terbakar pada alat kelamin dan gatal-gatal, tetapi dia tidak pernah memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Untuk mengatasi keluhannya paling dia hanya membeli obat bodrex, pergi ke tukang pijat, membeli jamu/membuat jamu sendiri dari campuran kencur dan kunyit untuk mengobati keluhan keputihan, atau kadang membeli obat antibiotik Tetra di toko obat terdekat.

 

Setelah berhenti menjadi PSK, Tuminah kembali ke Indramayu dan dia menjalin hubungan dengan laki-laki, beraganti-ganti pacar dan tinggal serumah dengan pacar-pacarnya. Pacar terakhir Sakiroh yang saat ini tinggal bersamanya adalah seorang calo yang bekerja mencari perempuan yang ingin ”luruh duit” (istilah untuk perempuan Indramayu yang bekerja sebagai PSK). Dari pacarnya inilah Tuminah memperoleh bantuan finansial untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama dengan ibunya. Tidak satupun pacarnya mau menikahi Tuminah sekalipun mereka telah hidup bersama layaknya suami istri. Namun demikian Tuminah tidak terlalu mempermasalahkan status hubungannya yang tidak resmi. Tuminah juga sempat hamil sebanyak dua kali dari 2 orang pacarnya.

 

Pada kehamilannya yang pertama Tuminah memeriksakan diri sebanyak 3 kali ke bidan. Selain itu dia juga pergi ke dukun untuk digoleng (perut diurut/dipijat untuk membuat posisi bayi berada di tempat yang normal). Dukun melakukan goleng pada perut Tuminah sebanyak 2 kali yakni saat usia kandungan 2 bulan dan 5 bulan. Setiap kali digoleng Tuminah mengaku merasakan kesakitan karena perutnya ditekan sang dukun dengan kuat. Namun dia tetap saja pergi ke dukun karena hal itu sudah menjadi kebiasaan yang dianjurkan oleh ibu & keluarganya. Selain itu dukun yang menangani Tuminah masih terhitung sebagai keluarga dekat dari ibunya, sehingga Tuminah merasa percaya padanya. Selama menjalani masa kehamilan, Tuminah sering jatuh karena kurang darah walaupun bidan sudah memberinya obat tambah darah, tapi Tuminah tetap saja merasa kepalanya pening, badannya selalu lemas sehingga gampang jatuh, terpeleset.

 

Setelah sembilan bulan usia kehamilannya tiba saatnya Tuminah harus melahirkan anaknya. Dengan bantuan tetangganya Tuminah memanggil bidan ke rumah untuk menolong persalinan. Proses persalinan sangat berat, Tuminah kesakitan karena bayinya ternyata susah keluar. Setelah menunggu semalaman sang bayi tidak juga mau keluar, sementara Tuminah sudah lemas kehabisan tenaga untuk mengejan. Menurut Tuminah, bidan yang menunggui proses persalinannya menjadi bingung dan tidak sabar menunggu perkembangan persalinan Tuminah. Bidan memberinya 1 liter minyak goreng yang dikucurkan di jalan lahir Tuminah karena bayinya tidak juga mau keluar setelah 24 jam kontraksi. Hal itu dilakukan bidan dengan maksud agar jalan lahir Tuminah menjadi licin sehingga diharapkan bayinya segera bisa keluar. Tuminah dikerumuni orang banyak, beberapa tetangganya bahkan ikut menunggui proses persalinan yang sulit. Tetangganya itu datang membantu karena dipanggil oleh bidan. Tuminah tidak tahu mengapa bayinya sulit keluar begitu pula bidan yang menungguinya. Sebelumnya saat periksa ke bidan, kehamilan Tuminah dinyatakan normal, bagus, tidak ada yang aneh.

 

Akhirnya Bidan menekan perut Tuminah kuat-kuat, dia juga meminta bantuan orang-orang untuk membantu menekan perut Tuminah membantu mendorong agar bayinya cepat keluar. Ada 5 laki-laki yang membantu bidan menolong persalinan, ada yang membantu memegangi kaki, badan ataupun kepala. Tuminah menjerit kesakitan dan jalan lahirnya bengkak pasca persalinan sehingga selama 5 bulan dia tidak bisa jalan. Namun sayang setelah berjuang keras mengeluarkan jabang bayi dari kandungannya, ternyata saat keluar sang bayi didapati dalam keadaan telah meninggal dunia. Hal itu karena bayi terlalu lama dalam perut. Tuminah merasa sangat sedih kehilangan bayinya, selain itu dia juga harus membayar biaya persalinan saat itu sebesar 300 ribu yang dibayarnya dari hasil simpanan Tuminah saat bekerja dulu.

 

Pada kehamilan yang kedua Tuminah memeriksakan diri ke bidan yang membuka praktek agak jauh dari rumahnya (3 km), namun juga tetap pergi ke dukun. Kali ini persalinan Tuminah berjalan lancar tanpa ada kesulitan seperti dulu. Tuminah berhasil melahirkan bayi perempuannya dengan selamat. Proses persalinanya ditangani oleh bidan dan juga dukun yang pernah didatangi Tuminah saat periksa hamil. Dukun meminta imbalan 400 ribu karena ikut membantu mencucikan pakaian Tuminah dan anaknya yang kotor serta mendatangi rumah Tuminah untuk membantu ibu dan anaknya setiap hari selama sebulan lamanya. Sedangkan bidan juga menetapkan tarip 400 ribu untuk biaya persalinan, sehingga Tuminah harus menyediakan dana sebesar total Rp 800.000,- untuk biaya persalinannya. Biaya persalinan itu dirasakan Tuminah sangat berat. Beruntung sang bidan mengijinkan Tuminah untuk menunda pembayaran hingga dia memiliki uang yang cukup untuk membayar.

Di daerah Indramayu banyak kasus yang hampir menyerupai kasus Tuminah. ***

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini