Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Partisipasi Aktif Women Research Institute pada Global Forest Watch Summit 2019 di Washington, DC

    Global Forest Watch Summit 2019 merupakan acara pertemuan lembaga-lembaga praktisioner dan inovator di bidang monitoring hutan yang telah diselenggarakan pada 18-19 Juni 2019 di Marvin Center, George Washington University. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan komunitas yang berdedikasi untuk mengimplementasikan pendekatan monitoring yang berbasis teknologi dalam melihat perkembangan pengelolaan hutan, konservasi dan restorasi.   Women Research Institute yang merupakan mitra dari World Resources Institute diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatatan GFW Summit dan mendapatkan berbagai pengalaman berupa berjejaring, dan membagikan serta bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait alat monitoring hutan kepada lembaga mitra World Resources Institute lain.

Artikel ini adalah ringkasan dari salah satu studi kasus mengenai masalah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan reproduksi dan ibu melahirkan. Studi kasus diambil dari 7 Kabupaten, yaitu Indramayu, Kota Surakarta, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Lebak. Di sini dipaparkan kisah kehidupan Agustin di Sumba Barat, Desa Gaura Kecamatan Lamboya. 

 

Sulitnya Mengakses Fasilitas dan Tenaga Kesehatan

Agustin lahir 5 Oktober 1984, di sebuah desa Gaura Kecamatan Lamboya kabupaten Sumba Barat. Dalam usia yang relatif muda ia telah memiliki 4 orang anak, satu anaknya meninggal beberapa saat setelah dilahirkan. Agustin mengaku menikah pada usia yang sangat muda, kondisi kemiskinan keluarganya membuatnya harus menikah cepat. Suaminya bekerja sebagai petani kebun, Agustin pun seusai mengurus keluarga dan anak-anaknya, ikut membantu suaminya menanam sayur di kebun. Hasil kebun berupa sayuran dan ubi-ubian adalah sumber nafkah keluarganya.

 

Saat diwawancara Agustin mengaku mengalami beberapa masalah pada organ reproduksinya. Alat kelamin Agustin sering sakit, terutama seusai melakukan hubungan seksual dengan suaminya, terkadang keluar darah segar setiap kali berhubungan seks, selain itu alat kelaminnya sering terasa gatal dan panas seperti terbakar, perut bagian bawahnya juga terasa nyeri dan sakit.

 

Sudah cukup lama, Agustin mengalami masalah-masalah pada organ reproduksinya, setiap kali ingin memeriksakan penyakitnya, bidan di desanya tidak melayani keluhan penyakitnya, bidan hanya memberikan beberapa butir obat penghilang rasa sakit yang diminumnya dua hari. Setelah itu rasa saki yang dialaminya kembali kambuh, akhirnya Agustin hanya bisa pasrah dengan kondisinya, ia hanya berkata ”bidan pamalas, kalau kita orang lain tidak akan dilihat dan dia tidak akan periksa, kalau keluarganya akan dilayani baik-baik,” Akhirnya Agustin hanya mampu pasrah dengan keadaanya, ia pun tidak pernah menceritakan keadaanya pada siapapun, bahkan kepada suaminya ia tidak bercerita. Penyakit itu ditanggungnya sendiri, karena Agustin tidak tahu seberapa bahaya penyakit yang dideritanya, sehingga Agustin takut untuk memberi tahu suami atau keluarga lainnya.

 

Saat melahirkan anak terakhirnya, Agustin hanya memanggil dukun di kampungnya, dia tidak mau meminta bantuan bidan, tanpa diduga kelahiran bayinya menjadi sangat sulit, hampir dua hari lamanya mules dan kejang diperutnya tidak berhenti, ia merasa hampir mati, saat itu ia juga teringat kejadin yang sama terjadi pada tetangga depan rumahnya yang harus meninggal karena mengalami pendarahan yang sangat banyak. Setelah sakit tidak tertahankan Agustin meminta suaminya untuk menjemput bidan. Belum sempat bidan datang, bayinya lahir dengan selamat, tetapi darah yang keluar dari jalan lahirnya seperti tidak berhenti keluar, kepalanya terasa sangat pusing, badannya menjadi lemas dan kejadian yang terakhir yang diingatnya sebelum pingsan dukun berteriak-teriak histeris melihat pendarahan tersebut.

 

Bidan datang tidak lama kemudian, setelah memberikan beberapa suntikan, bidan meminta suami Agustin untuk mencari kendaraan agar Agustin bisa dibawa ke puskesmas. Pencarian kendaraan itu menjadi sangat sulit. Desa Gaura terletak di atas pegunungan, untuk mencapai puskesmas dibutuhkan waktu 2 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang sangat rusak dan terjal, satu-satunya alat transportasi yang ada hanyalah truk yang beroperasi satu kali sehari. Selebihnya dengan menggunakan ojek dengan biaya Rp.100.00,- dan sangat tidak mungkin bisa membawa pasien yang sakit dengan goncangan yang sangat keras dan kuat, dan seringkali dalam beberapa kasus rujukan perempuan yang mengalami pendarahan, meninggal dalam perjalanan karena kondisi jalan yang sangat rusak ditambah dengan waktu tempuh yang sangat lama.

 

Masih dalam kondisi yang sangat lemah, bidan dengan sangat panik menjemput beberapa bidan yang bertugas di sekitar desa Gaura untuk meminta pertolongan. Hampir empat jam lamanya para bidan berjuang untuk menghentikan pendarahan yang dialami Agustin. Dengan perlahan kondisi Agustin yang hampir kehabisan darah bisa tertolong dan selamat. ***

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini