Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Dampak Konsesi Hutan terhadap Kehidupan Perempuan

    Data Global Forest Watch (GFW) mencatat hilangnya Tutupan Pohon di Lahan Gambut di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak, Riau. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya kebakaran hutan yang berangsur lama. Jumlah hutan yang terdegrasi proporsinya jauh lebih banyak dibandingkan hutan murni. Perempuan yang tergantung pada kondisi hutan akan mengalami dampak yang berkepanjangan di masa mendatang. Laju deforestasi yang semakin cepat per tahunnya di picu oleh banyaknya izin konsesi yang diberikan pada perusahaan-perusahaan perkebunan dan kehutanan, mengakibatkan akses masyarakat terhadap hutan dan sumber daya alam juga semakin terbatas.

Hampir setiap tahun dalam 18 tahun terakhir terjadi kebakaran hutan di Kota Pekanbaru yang asapnya memenuhi udara di kota dan sudah berstatus ‘sangat berbahaya’ (tingkat Indeks Standard Pencemaran Udara/ISPU lebih besar dari 400) bagi kehidupan manusia, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan/ibu hamil dan anak-anak. Hampir setiap tahun pula tindakan penanganan darurat yang disediakan pemerintah Kota Pekanbaru maupun Pemerintah Pusat masih belum mencukupi untuk dapat melindungi kesehatan masyarakat (perempuan/ibu hamil dan bayi, balita, anak-anak). Selama ini perempuan dan anak-anak terpaksa menghirup kabut asap secara intensif tanpa alat pelindung (masker N95) ataupun rumah pengungsian yang layak apabila terjadi kebakaran hutan. Anak-anak terpaksa tidak berangkat ke sekolah berminggu-minggu lamanya, karena ruangan kelas tidak dilengkapi dengan ruangan ber-AC dan air purifier.


Walaupun pihak Pemerintah Kota Pekanbaru telah menyediakan tindakan penanganan darurat, seperti evakuasi ke gedung Gedung Olah Raga (GOR), akan tetapi tindakan penanganan darurat tersebut belum memperhatikan standard perlindungan kesehatan. Tidak disediakan ruangan ber-AC dan aliran oksigen, serta belum disediakan masker N95. Dan belum memadahinya anggaran khusus yang disediakan untuk menangani dampak kebakaran hutan terhadap kesehatan masyarakat. Penanganan darurat kabut asap seperti ini akan memperburuk kondisi kesehatan perempuan/ibu hamil dan anak-anak.


Penelitian menunjukkan dengan menghirup kabut asap secara intensif akan beresiko menderita pneumonia dan kanker paru-paru yang gejalanya akan tampak setelah 10 atau 15 tahun kemudian. Puluhan ribu perempuan dan anak-anak yang terpapar kabut asap dengan ISPU yang berbahaya dapat terkena penyakit pneumonia dan kanker paru-paru dalam 10 atau 15 tahun ke depan. Sebuah ongkos yang sangat mahal apabila pemerintah tidak segera mengambil tindakan secara lebih komprehensif dan terkoordinir dalam menangani dampak kabut asap sesuai standard perlindungan kesehatan.

Berkaitan dengan hal tersebut Women Research Institute (WRI) melakukan kajian mengenai dampak kabut asap kebakaran hutan terhadap aspek kesehatan, sosial, ekonomi kelompok rentan (perempuan dan anak) di Pekanbaru, Riau. Selama ini dokumentasi dan hasil studi terkait dampak kabut asap masih sangat sedikit yang menggunakan perspektif feminis, sehingga dampak yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut terhadap kehidupan perempuan dan anak-anak kurang terlihat, padahal mereka adalah kelompok yang paling rentan.


Dalam kajian tersebut juga diidentifikasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pemerintah Kota Pekanbaru dalam mengalokasikan anggaran dan menyediakan tindakan penanganan darurat yang lebih efektif. Karena selama ini penanganan darurat kabut asap masih terhambat oleh tidak adanya alokasi anggaran khusus yang disediakan untuk penanganan peristiwa tersebut. Selain itu, untuk melihat peran masyarakat dalam penanganan darurat kabut asap, juga dilakukan identifikasi berbagai upaya yang dilakukan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, juga keterlibatan NGO dalam mengatasi masalah penanganan kabut asap.


Diharapkan tindakan penanganan darurat dapat menjadi lebih sesuai kebutuhan warga laki-laki dan perempuan. Salah satunya melalui identifikasi kearifan lokal yang dimiliki warga laki-laki dan perempuan untuk mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan. Selain itu, juga dengan mengidentifikasi relasi kuasa gender dan pola mobilitas warga laki-laki dan perempuan.***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini