Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Partisipasi Aktif Women Research Institute pada Global Forest Watch Summit 2019 di Washington, DC

    Global Forest Watch Summit 2019 merupakan acara pertemuan lembaga-lembaga praktisioner dan inovator di bidang monitoring hutan yang telah diselenggarakan pada 18-19 Juni 2019 di Marvin Center, George Washington University. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan komunitas yang berdedikasi untuk mengimplementasikan pendekatan monitoring yang berbasis teknologi dalam melihat perkembangan pengelolaan hutan, konservasi dan restorasi.   Women Research Institute yang merupakan mitra dari World Resources Institute diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatatan GFW Summit dan mendapatkan berbagai pengalaman berupa berjejaring, dan membagikan serta bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait alat monitoring hutan kepada lembaga mitra World Resources Institute lain.

Dalam rangka perayaan Hari Perempuan Internasional 2019, Sita Aripurnami menjadi narasumber pada diskusi dan peluncuan buku “Jalan Panjang Kepemimpinan Feminist LSM Perempuan di Sumatera”, Medan 29 Maret 2019. Acara tersebut diadakan oleh tim Permampu yang merupakan mitra MAMPU yang berfokus pada penguatan kepemimpinan perempuan untuk menghapuskan feminisasi kemiskinan melalui advokasi HKSR Perempuan dan Gizi.

 

Permampu, sebagai konsorsium yang beranggotakan 8  LSM Perempuan (selama lebih dari 15 tahun), merasakan perlu adanya pendokumentasian berbagai dinamika kepemimpinan perempuan di masing-masing lembaga. Hal ini didasari oleh dorongan untuk merepson dan memberi beberapa pemikiran terkait permasalahan pergantian perempuan, persoalan regenerasi, adanya kecenderungan maupun tuduhan “one-women shows”di internal maupun eksternal lembaga, serta adanya pandangan bahwa organisasi melemah bagi ornop/LSM perempuan yang telah melakukan pergantian pemimpin. Oleh karena itu, tim penulis Permampu mendokumentasikan pembelajaran dari empat lembaga yang menajdi studi kasus yaitu Flower Aceh, PESADA di Sumatera Utara, LP2M di Sumatera Barat dan Cahaya Perempuan WCC di Bengkulu. Dokumentasi tersebut diwujudkan dalam sebuah buku bertajuk "Jalan Panjang Kepemimpinan Feminist LSM Perempuan di Sumatera".

 

Dengan kiprah Sita Aripurnami sebagai aktivitis perempuan, co-founder Kalyanamitra dan Women Research Institue, Sita menjadi penulis pengantar pada buku yang dibuat oleh tim Permampu tersebut, dengan merajut pandangan tulisan “Selalu punya cara untuk bertahan, dan melawan. Mencari celah pembebasan bagi perempuan: Kerja keras LSM/Ornop Perempuan di Sumatera." Dalam hal ini, tulisan Sita Aripurnami menjadi bahan refleksi yang penting dalam melihat perkembangan organisasi perempuan dengan khas pada konsep dan implementasi sisterhood, kepemimpinan feminist dan kepemimpinan yang membawa perubahan. Berikut adalah cuplikan dari pengantar yang dibuat oleh Direktur Eksekutif WRI:

 

Pembuka: Persahabatan antar Perempuan

Persahabatan antar perempuan adalah dasar kerja kelompok atau organisasi perempuan. Dalam wacana konsep dan teori feminis disebut dengan sisterhood. Rasa persahabatan, pertemanan yang akrab bahkan merupakan persaudaraan antar perempuan yang mendorong kaum perempuan berkumpul untuk mengorganisasikan diri. Buku ini penting karena menyatakan perempuan bekerja melawan diskriminasi dan stereotipe gender. Hal ini dilakukan untuk  menghadirkan kesejahteraan bagi perempuan.

 

Sampai tahun 2019 ini sudah cukup banyak penelitian dilakukan terkait organisasi perempuan di Indonesia. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Women Research Institute pada tahun 2012[i] yang memaparkan bukan saja organisasi perempuan non-pemerintah dan kerjanya, tetapi juga gambaran mengenai kepemimpinan perempuan pada lima organisasi perempuan non-pemerintah di lima wilayah di Indonesia.   

 

Studi Women Research Institute itu menunjukkan bahwa peran perempuan semakin menguat pada orgnisasi perempuan non-pemerintah di lima wilayah, meskipun kesetaraan gender secara substansi belum tercapai. Secara institusional, mereka memiliki kemampuan untuk membangn organisasi berbasis perempuan. Dari studi tersebut, tampak bahwa peran perempuan dalam akuntabilitas sector public belum terjadi secara meluas. Organisasi perempuan non-pemerintah hanya memiliki akses dan kerjasama dalam penyelenggaraan kegiatan untuk perempuan. Mereka belum terlibat dalam proses penganggaran program pembangunan misalnya. Apabila mereka terlibat aktif, biasanya hanya dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang).

 

Temuan tersebut diperoleh pada tahun 2012, bagaimanakah situasinya saat ini setelah berjarak enam tahun kemudian?

 

Perempuan Bergerak, Perempuan Memimpin di Sumatera

Tidak dapat dipungkiri bahwa gerak dan kerja perempuan sejak masa penjajahan Belanda semakin menguat dan mampu menunjukkan perannya  dalam mencari solusi atas persoalan-persoalan yang dihadapi kaum perempuan. Demikian pula dengan yang ditunjukkan melalui empat studi kasus organsasi perempuan di Sumatera, Flower Aceh, PESADA, LP2M,  CC WCC. Ke empat organisasi tersebut menunjukkan peran perempuan yang semakin menguat dalam upaya mengatasi permasalahan yang dihadapi perempuan.

 

Apabila kita lihat dari keempat studi kasus pada penelitian ini focus tinjauan adalah pada bagaimana perempuan memimpin dan mengelola anggota organisasinya, agar tujuan lembaga dapat dicapai. Apakah ada sistem dan bentuk kepemimpinan yang khas perempuan, yang dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi perempuan? Apakah cara pemimpin perempuan dalam mengatasi masalah-masalah umum berbeda dengan pemimpin laki-laki? Apakah kepemimpinan ini dapat disebut sebagai kepemimpinan feminis?

 

Terlepas dari kendala-kendala yang dihadapinya, lembaga perempuan selalu memiliki cara untuk bertahan dan melawan serta mencari celah bagi pembebasan perempuan. Dan, hal inilah yang kesan yang terbaca saat membaca buku ini. Kerja keras LSM/Ornop Perempuan di Sumatera.

 

Penutup: Kepemimpinan yang Membawa Perubahan

Tujuan dari Konsorsium PERMAMPU adalah : melakukan penguatan kepemimpinan perempuan akar rumput untuk  penghapusan kemiskinan, melalui perlindungan dan pemenuhan Hak-hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi perempuan, khususnya di pedesaan dan miskin kota[ii]. Kepemimpinan feminis karena merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada penghormatan dan penghargaan kepada perempuan agar haknya dihargai. Kepemimpinan yang feminis bukan sebuah tindakan memerintah tetapi tindakan yang mengajak untuk berjuang bersama-sama.[iii]

 

Perjalanan kerja keras organisasi perempuan sudah lebih dari 200 tahun, apabila kita hitung dai masa kolonial Belanda. Tanpa henti dan lelah, para pegiat isu perempuan telah bekerja untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi perempuan. Perempuan selalu memiliki cara untuk bertahan dan melawan serta mencari celah bagi pembebasan perempuan.

 

Dalam studi ini dan juga studi yang dilakukan oleh Women Research Institute, kerja keras organisasi perempuan sudah sangat banyak dan menunjukkan kerja keras yang luar biasa dalam memenuhi sebuah penguatan kapasitas sebagai sebuah lembaga yang professional dan baik tata kelolanya. Bahkan, seringkali lebih ‘berat’ bekerja pada sisi ini. Sehingga, ini mungkin catatan kritis untuk kita bersama, menjadi kurang ‘memikirkan’ sungguh-sungguh memimpin untuk berjuang bersama-sama dengan pihak diluar lembaga kita. Mungkin, karena inilah ketidakadilan gender yang kita lawan, tidak kunjung runtuh. Ajakan untuk membuat kajian berikutnya secara bersama-sama, demi menghadirkan  keadilan gender ditengah masyarakat dan keluarga kita.

 

[i] Women Research Institute. Gerakan Perempuan Bagian Gerakan Demokrasi di Indonesia. Studi Kasus: Jakarta, Lampung, Sumatera Utara, Padang & Lombok. 2013, Women Research Institute, Jakarta

[ii] Loc cit

[iii] Ibid

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini