Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Partisipasi Aktif Women Research Institute pada Global Forest Watch Summit 2019 di Washington, DC

    Global Forest Watch Summit 2019 merupakan acara pertemuan lembaga-lembaga praktisioner dan inovator di bidang monitoring hutan yang telah diselenggarakan pada 18-19 Juni 2019 di Marvin Center, George Washington University. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan komunitas yang berdedikasi untuk mengimplementasikan pendekatan monitoring yang berbasis teknologi dalam melihat perkembangan pengelolaan hutan, konservasi dan restorasi.   Women Research Institute yang merupakan mitra dari World Resources Institute diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatatan GFW Summit dan mendapatkan berbagai pengalaman berupa berjejaring, dan membagikan serta bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait alat monitoring hutan kepada lembaga mitra World Resources Institute lain.

Kegiatan peningkatan kapasitas bagi staf WRI dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kompetensi dalam merumuskan, mengimplementasikan, dan mengawasi strategi yang tepat dan dapat diterapkan serta mengevaluasi efeknya dalam kurun waktu tertentu. Sebagai sebuah lembaga penelitian, para staf WRI wajib memiliki pengalaman yang memadai untuk mengimplementasikan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Para staf juga harus memiliki kompetensi dalam melakukan analisis yang mendalam untuk berkontribusi terhadap perbaikan kualitas dari kondisi dan posisi perempuan di Indonesia. Berdasarkan tujuan ini, staf WRI menghadiri konferensi dan lokakarya di Summer Institute on Migration (SIM) di Quezon City, Filipina, 6-29 Mei, 2007.

 

Tujuan Kegiatan:

  1. Meningkatkan pengetahuan mengenai hak asasi perempuan di tingkat internasional dan nasional dengan berpartisipasi pada Konferensi Tahunan Ke-9 Hak Asasi Perempuan Internasional (IWHR). 
  2. Meningkatkan pengetahuan mengenai migrasi dalam berbagai dimensi dengan berpartisipasi dalam Lokakarya di Summer Institute on Migration (SIM).
  3. Membangun jaringan dengan organisasi-organisasi perempuan di Filipina.
  4. Belajar dari pengalaman dan aktivitas para peserta dan organisasi-organisasi perempuan guna mendapatkan inisiatif untuk menentukan strategi yang lebih baik dalam upaya meningkatkan kemampuan perempuan untuk memperoleh akses terhadap sumberdaya khususnya yang berkaitan dengan partisipasi pejabat/pemerintah setempat.

 

Capaian dari Aktivitas

 

Aktivitas

Capaian

Catatan

Berpartisipasi dalam Konferensi Tahunan Ke-9 Hak Asasi Perempuan Internasional (IWHR)

  1. Meningkatnya pengetahuan mengenai Hak Asasi Perempuan Internasional dan Perjanjian Internasional yang terkait.
  2. Mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menganalisis permasalahan dan posisi perempuan tidak hanya di tingkat internasional namun juga di tingkat nasional dengan menggunakan perspektif Hak Asasi Perempuan.
  3. Membangun jaringan dengan para peserta lain yang datang dari berbagai negara seperti: Amerika Serikat, Cina, Kamboja, dan Filipina

 

Mengembangkan jaringan dengan organisasi-organisasi perempuan di Filipina.

  1. Pertemuan dengan tujuh organisasi perempuan di Quezon City, Filipina. Organisasi-organisasi ini adalah CATW-AP (Koalisi Melawan Perdagangan Perempuan-Asia Pasifik), Likhaan, Women Health, WAND, Saligan, Kanlungan, dan W-Lead.
  2. Berbagi mengenai isu-isu yang beragam dan tergantung pada fokus masing-masing organisasi, seperti:
  • CATW-P: perdagangan manusia, advokasi hukum bagi perdagangan manusia dan undang-undang pekerja migran, penelitian, dan peningkatan kapasitas bagi perempuan. Sebagian besar adalah mengenai pekerja migran.
  • Likhaan: advokasi hukum mengenai kebijakan kesehatan reproduksi dan layanan bagi mereka yang memiliki permasalahan dengan kesehatan reproduksi.
  • Kesehatan Perempuan: memperjuangkan hak-hak kesehatan reproduksi, penelitian, dan advokasi hukum.
  • WAND: anggaran berkeadilan gender
  • Saligan: advokasi hukum
  • Kanlungan: advokasi hukum bagi kebijakan pekerja migran, layanan bagi pekerja migran yang memiliki masalah, dan peningkatan kapasitas ekonomi dan pengetahuan bagi perempuan pekerja migran.
  • W-Lead: layanan hukum dan advokasi bagi perempuan, remaja, dan anak-anak
  1. Berbagi beragam tema dengan organisasi-organisasi tersebut termasuk mengenai aktivitas, strategi bertahan, serta permasalahan yang dihadapi dan strategi yang diambil dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, serta mengenai jaringan-jaringan yang dimiliki.
  2. Mencapai kesepakatan dengan organisasi-organisasi tersebut untuk mengembangkan jaringan dan berbagi setelah pertemuan pertama.

WRI mengunjungi dua organisasi di Filipina, yaitu Visayan Forum dan Migrant Forum in Asia (MFA). Visayan Forum adalah sebuah organisasi perempuan yang berfokus pada isu perdagangan perempuan dan anak-anak. Visayan Forum menyediakan layanan berupa dukungan psikologis dan peningkatan kapasitas. Sebagian besar korban yang dibantu adalah perempuan pekerja migran. Sedangkan Migrant Forum in Asia (MFA) adalah sebuah organisasi internasional yang berlokasi di Filipina dan berfokus pada pendorongan upaya pekerja migran untuk mendapatkan hak-hak dan keadilan.  Saat kunjungan ke Visayan Forum, direktur eksekutif organisasi tersebut sedang menghadiri pertemuan di provinsi. Pada saat yang bersamaan, direktur eksekutif dari Migrant Forum in Asia juga sedang menghadiri pertemuan internasional mengenai pekerja migran di Bangkok, Thailand.  

Berpartisipasi pada Lokakarya di Summer Institute on Migration (SIM)

 

 

  1. Meningkatkan pengetahuan mengenai migrasi dalam berbagai dimensinya, seperti dimensi sosial, budaya, ekonomi, penelitian, proses, hukum, hak asasi manusia, kebijakan, dan lain-lain.
  2. Mendapatkan pengetahuan untuk menganalisis permasalahan dan posisi perempuan pekerja migran dalam berbagai dimensi.
  3. Membangun jaringan dengan peserta lain dari berbagai negara seperti: Singapura, Jepang, Cina, Prancis, dan Filipina.

 


Pencapaian Program

 

Terdapat beberapa capaian dari program ini. Pertama, staf WRI meningkatkan kapasitasnya dalam Hak Asasi Perempuan dengan berpartisipasi pada Konferensi Tahunan ke-9 Hak Asasi Perempuan Internasionl (IWHR). Staf WRI juga menjadi lebih sensitif dalam menganalisis kondisi dan posisi perempuan dalam perspektif Hak Asasi Manusia dengan menggunakan CEDAW dan lainnya. Selain itu, staf WRI juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman lebih dari peserta lain dari berbagai negara mengenai isu migrasi dengan berpartisipasi dalam Lokakarya di Summer Institute on Migration (SIM). Berpartisipasi dalam lokakarya memperkuat staf WRI dalam melakukan analisis atas isu migran dalam berbagai dimensinya.

 

Kedua, staf WRI telah membangun jaringan dengan berbagai pihak, seperti membangun jaringan dengan Miriam College-Women and Gender Institute (WAGI) sebagai penyelenggara lokakarya dan konferensi. Miriam College-WAGI adalah pusat penelitian, pelatihan, dan advokasi hak-hak perempuan, kesetaraan gender, dan pembelajaran yang tidak seksis dalam mendukung kepemimpinan para perempuan muda dan pelajar.

 

Jaringan lain juga dibangun oleh WRI dengan organisasi-organisasi perempuan di Filipina: CATW-AP (Koalisi Menentang Perdagangan Perempuan-Asia Pasifik), Likhaan, Women Health, WAND, Saligan, Kanlungan, dan W-Lead. Organisasi-organisasi perempuan ini telah berbagi pengalaman dalam berbagai isu yang terkait dengan fokus masing-masing organisasi. Staf WRI memperoleh pengalaman mengenai isu kesehatan reproduksi, hak-hak perempuan terkait dengan kesehatan reproduksi, layanan kesehatan reproduksi, pekerja migran perempuan, advokasi dan layanan bagi pekerja migran perempuan, advokasi kebijakan, dan advokasi hukum. Selain itu, staf WRI juga memperoleh gambaran mengenai berbagai aktivitas dan strategi yang dapat ditempuh dalam upaya meningkatkan kapasitas perempuan. Lebih lanjut, WRI juga mendapatkan kepastian bantuan dari sebuah organisasi yang akan mendaftarkan WRI ke sebuah jaringan internasional. Staf WRI juga membangun jaringan dengan para peserta lain selama konferensi dan lokakarya.

 

Segala pencapaian ini dapat menguntungkan organisasi. Peningkatan pengetahuan dan kapasitas staf WRI mengenai hak asasi perempuan dan migrasi dapat meningkatkan kualitas dalam melakukan penelitian dan aktivitas advokasi. Staf WRI juga dapat berkontribusi dalam membangun strategi dengan mempertimbangkan strategi yang telah dilakukan oleh organisasi dan para peserta lainnya mengenai upaya meningkatkan kemampuan perempuan dalam mendapatkan akses atas sumber daya khususnya yang berkaitan dengan penuntutan hak berpartisipasi pejabat/pemerintah setempat. Pembangunan jaringan dengan organsisasi perempuan dan peserta-peserta lain juga akan memperluas cakrawala dan akses WRI. ***

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini