Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Partisipasi Aktif Women Research Institute pada Global Forest Watch Summit 2019 di Washington, DC

    Global Forest Watch Summit 2019 merupakan acara pertemuan lembaga-lembaga praktisioner dan inovator di bidang monitoring hutan yang telah diselenggarakan pada 18-19 Juni 2019 di Marvin Center, George Washington University. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan komunitas yang berdedikasi untuk mengimplementasikan pendekatan monitoring yang berbasis teknologi dalam melihat perkembangan pengelolaan hutan, konservasi dan restorasi.   Women Research Institute yang merupakan mitra dari World Resources Institute diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatatan GFW Summit dan mendapatkan berbagai pengalaman berupa berjejaring, dan membagikan serta bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait alat monitoring hutan kepada lembaga mitra World Resources Institute lain.

Sita Aripurnami mengikuti UN General Assembly (UNGA) ke 68 di New York, 19-29 September 2013. Pada pertemuan UNGA membahas tentang Follow-Up Efforts Made towards Achieving the Millennium Development Goals. Partisipasi Sita pada UNGA atas dukungan INFID sebagai tindak lanjut dari keterlibatan Sita dalam pembuatan masukan pada High Level Panel (HLP) Report on Post 2015 yang diselenggarakan di Bangkok, Bali, Jakarta dan New York pada rentang waktu Desember 2012 hingga Juni 2013.

 
UNGA tahun ini didukung oleh lebih dari 58 side events setiap harinya, namun sayangnya hanya ada 13 side events yang berbicara tentang isu perempuan atau setidaknya mengintegrasikan isu gender dalam pembahasannya atau sekitar 22.41% saja dari keseluruhan pembahasan side events  selama UNGA berlangsung.

Dalam UNGA kali ini interaksi dengan para pengambil keputusan apakah itu head of states ataupun wakil negara dalam UNGA dimungkinkan melalui partisipasi (sebagai pendengar) dalam setiap side events yang diselenggarakan. Bahkan, dengan persiapan yang cukup waktu dan matang beberapa NGOs bekerjasama dengan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam kesempatan itulah, sebelum atau setelah pertemuan peserta side events dapat berinteraksi dan menyatakan pandangannya agar dapat menjadi masukan bagi wakil negara yang memiliki hak bicara dalam UNGA. Sayangnya, partisipasi dalam side events ini juga tidak bebas karena tergantung pada ketersediaan tempat dan respon kembali dari pihak penyelenggara. Lebih jauh lagi dengan security yang ketat sehubungan dengan hadirnya banyak kepala negara, membuat partisipasi Sita pada beberapa side events menjadi batal karenanya. Alhasil dari 13 side events, Sita hanya bisa berpartisipasi dalam 7 side events saja.

Pada UNGA kali ini, Sita Aripurnami bersama dengan beberapa NGOs Indonesia menyelenggarakan side events serta terlibat dalam persiapan side events yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada side events yang diselenggarakan oleh kolaborasi NGOs Indonesia pada 25 September 2013 yang mengambil tema “Inter Community in Reality: Towards a New Platform for Achieving MDGs and Welcoming Post-2015 Development Agenda in Indonesia”, Sita Aripurnami bersama 14 pembicara lain menyampaikan pandangannya tentang upaya pencapaian target MDGs dan apa yang perlu dilakukan paska 2015 di Indonesia. Pada side events tersebut Sita memutarkan film untuk menggambarkan tentang upaya yang dilakukan oleh kelompok masyarakat sipil termasuk kelompok perempuan di Lombok Tengah dalam menurunkan AKI di daerah itu.

Catatan Penutup

Seiring dengan pembahasan UNGA mengenai Follow-Up Efforts Made towards Achieving the Millennium Development Goals, di Indonesia ditemukan fakta yang mengejutkan yang menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia melonjak menjadi 359/100,000 (SDKI 2012). Hal ini sangat memprihatinkan, karena dalam pertemuan manakala para Negara anggota PBB berlomba dengan semangat melaporkan keberhasilan negaranya berupaya mencapai target MDGs, Indonesia dalam hal AKI justru semakin buruk bahkan jauh lebih buruk dibandingkan era sebelum reformasi. Pembicaraan kritis mengenai hal ini tidak terbangun selama pembicaraan-pembicaraan mengenai Indonesia di forum UNGA dan side events tentang Indonesia.

Adalah amat penting untuk membahasnya dan mencari jalan agar kondisi ini dapat dicarikan jalan keluarnya. Matra pembangunan sebagaimana yang disebutkan dalam dokumen PBB mengenai Post 2015 dan sustainable development agenda mengacu pada nilai dasar hak asasi manusia dan penghargaan terhadap lingkungan, hal ini perlu dirujuk terutama pada pelaksanaan program pembangunan yang disertai dengan anggaran yang mendukungnya.***

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini