Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Global Forest Watch Summit 2019 merupakan acara pertemuan lembaga-lembaga praktisioner dan inovator di bidang monitoring hutan yang telah diselenggarakan pada 18-19 Juni 2019 di Marvin Center, George Washington University. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan komunitas yang berdedikasi untuk mengimplementasikan pendekatan monitoring yang berbasis teknologi dalam melihat perkembangan pengelolaan hutan, konservasi dan restorasi.

 

Women Research Institute yang merupakan mitra dari World Resources Institute diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatatan GFW Summit dan mendapatkan berbagai pengalaman berupa berjejaring, dan membagikan serta bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait alat monitoring hutan kepada lembaga mitra World Resources Institute lain.

Adanya kerusakan lingkungan dan bencana membuat perempuan lebih rentan mengalami dampak buruk. Hal ini juga ditemukan oleh Women Research Institute pada kasus kebakaran hutan dan dampak kabut asap di Riau tahun 2016. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Tidak hanya itu, di tahun 2015, WRI juga meneliti bagaimana dampak konsesi hutan pada kehidupan dan penghidupan perempuan sekitar wilayah tersebut. 

Kedekatan perempuan dengan kebutuhan dan permasalahan lingkungan memiliki keterkaitan yang erat, salah satunya adalah penggunaan energi. Ketersediaan energi merupakan elemen penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia serta merupakan kebutuhan mutlak untuk menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. Bagi perempuan ketersediaan energi sangat berpengaruh pada kesehatan reproduksi, proses produksi rumah tangga, rasa keamanan individu dan terkait pada tingkat kesejahteraan perempuan. Energi listrik bagi perempuan membantu mempermudah aktivitas rumah tanggamulai dari menghidupkan pompa air untukmempermudah ketersediaan air hingga membantu meringankan pekerjaan rumah tangga karena listrik merupakan sumber tenaga untuk menghidupkan elektronik yang membantu kegiatan memasak di dapur. [1]

Hingga saat ini hanya ada sekitar 18 persen anggota parlemen perempuan di seluruh dunia. Padahal salah satu target penting Millenium Development Goals (MDGs) 2015 adalah keterwakilan kaum perempuan di parlemen. Target keterwakilan perempuan di parlemen menjadi amat penting ketika perempuan menjadi subjek yang memiliki otoritas dalam pembuatan kebijakan, selain untuk memenuhi target MDGs juga target pembangunan lainnya.

Dalam isu gender dan kemiskinan, rumah tangga merupakan salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan. Ketidaksetaraan di dalam alokasi sumberdaya dalam rumah tangga memperlihatkan laki-laki dan perempuan mengalami bentuk kemiskinan yang berbeda. Di ruang publik, kemiskinan perempuan selalu dikaitkan dengan tertutupnya ruang-ruang partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan yang sifatnya formal bagi perempuan. Bagi perempuan seringkali konsep ruang publik ini diartikan sebagai tempat kerja atau tempat berusaha daripada forum-forum di dalam komunitas. Keterlibatan dalam forum publik di dalam komunitas pun biasanya terbatas dan masih tidak terlepas dari peran domestiknya, seperti arisan, pengajian atau perkumpulan keagamaan, dan PKK.

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini