Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Global Forest Watch Summit 2019 merupakan acara pertemuan lembaga-lembaga praktisioner dan inovator di bidang monitoring hutan yang telah diselenggarakan pada 18-19 Juni 2019 di Marvin Center, George Washington University. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan komunitas yang berdedikasi untuk mengimplementasikan pendekatan monitoring yang berbasis teknologi dalam melihat perkembangan pengelolaan hutan, konservasi dan restorasi.

 

Women Research Institute yang merupakan mitra dari World Resources Institute diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatatan GFW Summit dan mendapatkan berbagai pengalaman berupa berjejaring, dan membagikan serta bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait alat monitoring hutan kepada lembaga mitra World Resources Institute lain.

Kegiatan GFW Summit 2019 berisi panel diskusi yang dapat diikuti sebagai forum belajar bersama. Dalam hal ini, peneliti Women Research Institute mengikuti berbagai sesi diskusi yaitu 1) Informasi terkini tentang pengembangan platform GFW, 2) Diskusi berbagi pengalaman baik berdasarkan areal kerja, 3) Diskusi berbagi pengalaman baik berdasarkan topik kerja (Community Monitoring), 4) Networking session: user marketplace, 5) Memanfaatkan data untuk aksi nyata.

Berikut adalah penjelasan tentang sesi-sesi diskusi:

1) Informasi terkini tentang pengembangan platform GFW

Pada sesi ini, peserta mendapatkan informasi terkini tentang pembaharuan atau versi terbaru dari perangkat GFW.  Platform GFW merupakan plaform yang memberdayakan setiap orang dimana saja untuk bisa melindungi hutan melalui data terbaru, teknologi dan perangkat GFW. Setidaknya terdapat dua pembaharuan penting yang sudah dikembangkan oleh pihak World Resources Institute:

  • Forest Watcher Mobile App; Aplikasi Forest Watcher saat ini (versi 1.8) memungkinkan pengguna dapat mengekspor file laporan secara offline. Hal ini menjadi poin penting sebab seringkali data dan informasi dari GFW tidak dapat diakses oleh masyarakat yang berada di area-area dengan jaringan internet yang tidak stabil sebagaimana di beberapa area project Women Research Institute seperti di Siak dan Pelalawan. Sehingga hadirnya FW App ini akan menjadi solusi yang baik dalam mengatasi kendala jaringan internet dalam mengakses data dan informasi monitoring kondisi hutan. Pada tahap berikutnya, forest watcher versi 1.9 diharapkan sudah dapat diluncurkan pada Juli 2019 dengan perbaikan pada data untuk menjadi lebih kontekstual.
  • MapBuilder mapping portal; merupakan aplikasi peta dalam jaringan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna. MapBuilder mapping portal memudahkan dan membantu pengguna dalam mapping portal sendiri lengkap dengan perangkat analitik yang kuat. Melalui aplikasi ini pengguna dimungkinkan untuk mengkombinasikan data GFW dengan data GIS yang dimiliki. Hal ini misalnya dilakukan dalam pengembangan platform Hutan Watch Malaysia. Pada pembaharuan berikutnya aplikasi ini akan memungkinkan pengguna untuk menggambar area yang diininkan dengan memasukkan titik koordinat.

2) Diskusi berbagi pengalaman baik berdasarkan areal kerja

Sesi ini bertujuan untuk mendiskusikan alat atau perangkat monitoring hutan yang digunakan oleh masing-masing organisasi di areal kerja yang sama (dalam hal ini Indonesia), mengidentifikasi aspek positif dan negatif dari alat monitoring tersebut, dan mengidentifikasi secara bersama-sama mengenai peluang pengembangan GFW di masa mendatang.

Pada Sesi ini Women Research Institute menceritakan pengalamannya dalam menggunakan GFW sebagai satu-satunya perangkat pemantauan hutan yang dipakai untuk menunjang data penelitian, dan sebagai sumber data yang menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan lokasi/area yang akan diintervensi. Data GFW yang sering digunakan oelh Women Research Institute adalah data tree cover loss, tree cover gain, serta fire alerts.

Beberapa aspek negative yang menjadi kendala bagi Women Research Institute dalam menggunakan GFW sebagai perangkat monitoring hutan adalah istilah-istilah teknis dan ilmiah yang tidak familiar bagi orang kebanyakan, serta sulit untuk diterjemahkan dalam istilah yang lebih sederhana dan mudah untuk dipahami oleh komunitas. Hal lain yang seringkali menjadi kendala adalah terkait hubungan pada jaringan internet yang tidak stabil menghambat Women Research Institute untuk bisa mendemonstrasikan penggunaan GFW pada masyarakat. Rekomendasi yang bisa menjadi peluang untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan mengambangkan modul praktis mengenai panduan penggunaan dan interpretasi data GFW.

3) Diskusi berbagi pengalaman baik berdasarkan topik kerja (Community Monitoring)

Pada sesi diskusi round 2 Women Research Institute bergabung bersama kelompok dengan tema diskusi Community Monitoring. Pada Sesi diskusi ini, Women Research Institute menekankan bahwa dalam mendorong monitoring hutan yang berbasis masyarakat, kita tidak boleh meninggalkan partisipasi perempuan di belakang. Untuk mendorong partisipasi perempuan, Women Research Institute masuk dengan pendekatan kepada kelompok perempuan bahwa pengelolaan hutan dan lahan yang tidak dilakukan secara partisipatif dan berkelanjutan akan memberikan dampak negative bagi kehidupan sehari-hari perempuan. Misalnya saja pada kejadian kabut asap karena kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 yang memberikan dampak sangat besar bagi kehidupan perempuan. Strategi ini terbilang efektif karena dengan pendekatan tersebut masyarakat dapat melihat alasan yang jelas mengenai pentingnya partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan hutan dan lahan.

4) Networking session: User Marketplace

Pada sesi ini partisipan summit dapat berjejaring bersama 30 eksibitor. Women Research Institute menjadi salah satu eksibitor dari kelompok Civil Society Engagemnet, menampilkan hasil kerja-kerja WRI khsusunya yang terkait dengan isu pengelolaan hutan dan lahan. Sesi ini berlangsung selama dua jam mulai pukul 15.30 – 17.30 di langsungkan di Grand Ballroom GWU.

 5) Sesi diskusi memanfaatkan data untuk aksi nyata

Pada sesi ini didiskusikan berbagai strategi yang mempromosikan keberlanjutan pengelolaan hutan dan penggunaan lahan telah berkembang melalui kemajuan dalam alat dan teknologi untuk mengukur dan memonitor hutan. Pada sesi ini panelis mengeksplorasi kebutuhan, peluang, dan tantangan dalam mengadopsi sistem baru untuk memonitoring hutan dan penggunaan lahan.

Carl Amirgulashvili dari Georgia berbagi mengenai memonitoring hutan untuk bahaya kabut asap, dengan menggunakan GFW Platform fire alerts dan GLAD Alerts dan berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk implementasinya. Dalam perkembangannya, Pemerintah Georgia meraksanan perangkat GFW tersebut sangat bermanfaat untuk membuat perencanaan yang lebih baik dan menjadi bahan pertimbangan untuk dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Sedangkan dari Madagascar, Serge berbagi mengenai pengalaman penggunaan GFW khsusunya untuk perangkat GLAD Alert dan Fire Alert yang dapat membuat pekerjaan dari Forest Ranger menjadi lebih efektif. Penggunaan GFW memberikan dampak yang sangat positif karena dapat menekan biaya patroli, mengatasi masalah terkait keterbatasan infrastruktur/alat, serta keterbatasan SDM. Namun demikian mereka masih menghadapi kendala terkait energi, karena dalam melakukan satu kali patroli petugas membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu di hutan, sehingga menghadapi kesulitan saat daya atau energi penunjang alat telah habis.

Hidayah Hamzah dari Indonesia berbagai mengenai kebutuhan akan alat monitoring hutan yang tepat berkaitan dengan sumber daya hutan di Indonesia yang sangat melimpah, namun di saat bersamaan juga menghadapi masalah keterbatasan SDM. Pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia juga kerap kali diwarnai konflik akibat suatu lahan diklaim oleh lebih dari satu pihak. Dengan demikian saat terjadi kebakaran hutan dan lahan tterjadi kendala dalam memutuskan pihak mana yang akan bertanggung jawab. Sehingga untuk meminimalisasi konflik perlu disusun satu data yang terintegrasi sehingga setiap pihak dapat memiliki dan menggunakan referensi yang sama. 

Poin penting dari diskusi kelas ini menekankan mengenai perlunya untuk memastikan apakah penyebab dari deforestasi itu sendiri, apakah pembangunan jalan, apakah perusahaan, apakah praktik perkebunan oleh masyarakat, selain itu penggunaan GFW juga perlu dikombinasikan dengan data lain sehingga dapat lebih komprehensif. Selain itu perlu dipastikan juga untuk melakukan aksi dan mengukur apakah aksi yang dilakukan memberikan dampak pada masyarakat.

Refleksi

Dari seluruh acara yang diikuti oleh WRI, disimpulkan bahwa Global Forest Watch Platform merupakan salah satu potensi ruang partisipasi perempuan dalam mengakses informasi dan dilibatkan  pada pembuatan kebijakan di bidang lingkungan. Dalam hal ini, perempuan bisa diikutsertakan dan didorong terlibat aktif dalam pencarian bukti dan informasi melalui teknologi GFW. Kapan saja dan dimana saja, setiap orang akan dapat mengetahui kondisi hutan dan peringatan kebakaran/kebencanaan lainnya.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, maka kewajiban kita bersama untuk mensosialisasikan, mengedukasi dan mendampingi perempuan dalam menggunakan GFW platform.

Sekarang, kalian juga bisa sebarkan kabar baik ini melalui link platform Global Forest Watch: www.globalforestwatch.org

 

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini