Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Tulisan ini merupakan catatan kecil, yang mengajak kita semua untuk memikirkan apa saja permasalahan yang diharapkan menjadi perhatian kerja Kabinet Indonesia Maju. Apa sajakah permasalahan yang dihadapi oleh perempuan di Indonesia yang perlu menjadi perhatian?

 

Kekerasan terhadap Perempuan, termasuk Kawin Anak & Perdagangan Orang

 

Menurut Komnas Perempuan, jumlah kasus Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) tahun 2018 adalah 406.178 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 348.466 orang. Hal yang patut dicatat bahwa angka KtP di Indonesia cenderung meningkat setiap tahun. Hanya tahun 2016 mengalami penurunan tetapi meningkat kembali hingga tahun 2018.

 

 

Seringkali mereka yang mengalami kekerasan adalah juga para perempuan usia muda atau anak-anak. Komnas Perempuan menyebutkan 71% kekerasan terjadi di ranah pribadi/KDRT. Menurut laporan Unicef (2016) tercatat 1 dari 9 anak perempuan pernah menikah sebelum usia 18 tahun. Berdasarkan data BPS (2017) disebutkan bahwa 23 provinsi di Indonesia lebih dari 25% penduduknya melakukan perkawinan anak.

 

Pemerintah Indonesia memperkirakan sekitar 1,9 juta dari 4,5 juta warga Indonesia yang bekerja di luar negeri—kebanyakan dari mereka adalah perempuan—tidak memiliki dokumen atau telah tinggal melewati batas izin tinggal. Situasi ini meningkatkan kerentanan mereka terhadap perdagangan orang. Jumlah sebenarnya jauh lebih besar mengingat banyaknya buruh migran yang mengelak untuk memenuhi persyaratan penempatan dan izin bekerja ke luar negeri yang diterbitkan oleh pemerintah. Dan, ini kerap dilakukan atas hasutan pelaku perdagangan orang. 

 

Paparan di atas merupakan stimulasi untuk mengkaji lebih dan mendorong kerja bersama pemerintah daerah dan lembaga-lembaga yang giat mengatasi permasalahanan untuk mengurangi jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

 

Perempuan, Partisipasi Angkatan Kerja & Akses Ekonomi

 

Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia adalah 50.7%; lebih rendah dibandingkan dengan negara Kamboja dengan PDB terendah kedua di Asia Tenggara (Bank Dunia, 2019). Artinya, peluang perempuan untuk memiliki penghasilan juga rendah.

 

Kementerian Koordinator Perekonomian (2018) juga menyatakan bahwa dalam 40 tahun terakhir perempuan di Indonesia tercatat memiliki penghasilan rendah. Terdata 22% perempuan Indonesia menabung secara informal dan sebagian besar tidak memiliki tabungan baik melalui lembaga perbankan ataupun informal melalui kelompok keuangan di tingkat komunitas.

 

Sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 82/2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). SNKI ini berpeluang dapat mendorong peningkatan jumlah perempuan untuk memiliki akses ekonomi. Target untuk mencapai 75% tingkat inklusifitas masyarakat, termasuk perempuan, pada produk keuangan masih belum terwujud.

 

Perempuan & Pendidikan

 

Berdasarkan Indeks Pembangunan Gender 2017, rata-rata lama sekolah perempuan 7.65 tahun, sedangkan laki-laki 8.56 tahun. Berarti, tingkat pendidikan perempuan di Indonesia sampai kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan laki-laki sampai kelas 2 SMP.

 

Kerap disampaikan bahwa peluang dan partisipasi perempuan sama dengan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan. Namun, bila ditilik dari lama mengikuti pendidikan tampak bahwa rata-rata perempuan mempunyai tingkat pendidikan yang lebih rendah daripada laki-laki. Jika dilihat secara keseluruhan, tingkat pendidikan penduduk Indonesia, berada di jenjang SMP dan itupun tidak tamat.

 

Angka Kematian Ibu (AKI)

 

Kematian ibu merupakan tantangan yang besar bagi permasalahan kesehatan perempuan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan (2015) menunjukkan bahwa AKI di Indonesia adalah 305/100,000. Sementara, target AKI pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yang juga disepakati oleh Indonesia, di tahun 2030 adalah 70/100,000. Salah satu ukuran sebuah negara sejahtera apabila tingkat angka kematian ibu di negara tersebut rendah.

 

Representasi Politik Perempuan

 

Saat ini partisipasi perempuan di parlemen adalah 20.5%.  Lebih tinggi daripada periode sebelumnya yaitu 17.32%. Target minimal pemenuhan kuota 30% memang masih cukup jauh untuk dicapai. Namun, saatnya mulai dipikirkan cara untuk memperkuat kapasitas perempuan agar kepentingan perempuan lebih dapat disuarakan dan mendorong terbitnya kebjakan yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan.

 

Penutup

 

Catatan kecil tentang permasalahan yang dihadapi perempuan ini, tentunya belum menggambarkan kedalaman masalah yang dihadapi perempuan dan masih banyak lagi kaitannya dengan persoalan pelaksanaan lain seperti hukum dan peraturan, interpretasi pada pemahaman agama dan budaya yang memberi pengaruh pada posisi dan kondisi perempuan di Indonesia. 

 

Dengan demikian, harapannya lima tahun mendatang, kita semua bisa duduk bersama menilai kembali sudah seberapa besar perbaikan atas permasalahan perempuan yang dicapai pada tahun 2024 di Indonesia.

 

Sita Aripurnami

Direktur Eksekutif Women Research Institute

 

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini