Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Kajian tentang perempuan hanyalah salah satu dari kemungkinan untuk mempertanyakan persoalan pengetahuan sekaligus dengan melihat kembali pada kenyataan empiris yang ada tentang perempuan sehingga sebuah ruang bersama bisa dirumuskan. Masalah utama memang pada kekosongan peta pengetahuan tentang perempuan yang bersumber dari keadaan empirik dari masyarakat Indonesia sendiri. Artinya persoalan perempuan yang selama ini dikunyah sebagai pengetahuan tentang gagasan kebersamaan, selalu berasal dari sebuah pandangan orang lain, dari pada pandangan yang merekatkan kaki kita pada tanah dimana kita berpijak.

 

Dalam kerangka mengisi kekosongan inilah kerjasama untuk mengadakan workshop penelitian dapat menjadi poros utama dalam mengisi peta pengetahuan yang akan menjadi pijakan bersama. Seorang peneliti dituntut untuk terus melakukan proses aksi dan refleksi dalam proses produksi maupun reproduksi pengetahuan— yang juga memerlukan satu forum untuk terus mempertajam dan menyegarkan analisisnya. Berangkat dari kesadaran tersebut, maka pada 27-30 Januari 2009 diadakan workshop (training) metode penelitian kualitatif dengan perspektif feminis. Workshop ini diikuti oleh tujuh peneliti WRI dan dihadiri pula oleh peneliti dari Kartini Network, Komunikasi Pasca Sarjana UI dan Pusat Kajian Representasi Sosial Jakarta.

 

Meski bertajuk metode penelitian kualitatif, workshop ini tak semata mengulas tentang teknis-metodologis riset kualitatif, namun bergerak lebih dalam ke pembongkaran cara berpikir dominan hasil konstruksi sosial tentang perempuan yang kerap mengungkung seorang peneliti. Menelaah secara kritis kebenaran pemikiran dan pemahaman tentang perempuan dianggap penting diulas dalam workshop karena dengan kesadaran kritis terhadap kenyatan sosial, seorang peneliti akan memiliki kerangka konseptual dan analisis yang tajam dalam membaca realitas sosial yang dihadapi perempuan.

 

Tujuan Workshop

  1. Membongkar cara berpikir dominan hasil bentukan sosial yang selama ini kuat mempengaruhi masyarakat termasuk kita sebagai peneliti sosial.

  2. Mempertanyakan kebenaran pemikiran, pandangan dan pemahaman tentang perempuan hasil bentukan masyarakat.

  3. Mempertajam analisis masalah atas realitas sosial perempuan yang dihadapi.

  4. Membangun pemikiran kritis peneliti agar punya kerangka konseptual dalam membaca deskripsi hasil penelitian.

  5. Metode Penyampaian

 

Workshop ini mengambil teknik diskusi partisipatif dan dipandu oleh narasumber ahli dalam bidang penelitian metodologi kualitatif seperti DR. Risa Permanadeli, DR. Aris Arif Mundayat dan Myra Diarsi MA.

 

Deskripsi Sesi dalam Workshop

Hari 1: Membongkar Narasi Sejarah Dominan Perempuan (Konteks Sejarah)

 

Berbagai pemikiran, pandangan dan pemahaman tentang perempuan yang muncul dari berbagai latar belakang yang dipengaruhi baik oleh narasi agama, budaya, pertarungan politik, ekonomi serta kepentingan-kepentingan lainnya.

  • Sesi ini lebih banyak melihat sejarah pemikiran, pendangan dan pemahaman tentang perempuan baik di negara barat maupun di Indonesia sendiri.

  • Pembongkaran pemikiran, pemahaman dan pandangan tentang perempuan yang selama ini dominan berlaku (Reinterpretasi terhadap sejarah perempuan).

  • Membongkar relasi kuasa dalam relasi gender.

 

Harapan

  • Peserta diharapkan mampu memahami sejarah panjang dari proses peminggiran perempuan dalam wacana yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

  • Peserta diharapkan mampu melakukan reinterpretasi terhadap sejarah panjang proses peminggiran tersebut.

  • Terbangun kemampuan komparasi peserta terhadap berbagai pemikiran, pemahaman dan pandangan tentang perempuan.

 

Hari 2: Memahami Realitas Sosial yang Dominan (Konteks Kekinian)

 

  • Pemahaman akan realitas sosial dominan yang mempengaruhi pemikiran, pemahaman dan pandangan tentang perempuan (konteks kekinian).

  • Sesi ini lebih banyak melihat berbagai realitas sosial tentang perempuan Indonesia.

  • Merumuskan ulang tentang permasalahan realitas sosial perempuan Indonesia.

 

Harapan

  • Peserta diajak melihat dan memahami berbagai realitas sosial perempuan yang timbul dari berbagai latar belakang yang muncul pada hari 1.

  • Peserta diharapkan mampu memahami berbagai permasalahan perempuan Indonesia.

 

Hari 3: Penelitian sebagai Alat untuk Melihat Realitas Perempuan

 

  • Menggunakan penelitian sebagai salah satu alat untuk melihat realitas sosial perempuan

  • Pendekatan metodologi yang dipilih untuk menguak realitas sosial perempuan di daerah penelitian

  • Kapan menggunakan analisis kualitatif

  • Mengembangkan kerangka analisa dari observasi yang dilakukan

  • Mengenali kekuatan dari lokasi penelitian (proses pemilihan lokasi, latar belakang pemilihan lokasi, pemahaman akan lokasi penelitian dll)

  • Strategi pendeskripsian lapangan dan metode wawancara untuk menggali realitas sosial perempuan di daerah penelitian

 

Harapan

Peserta mulai mengenali strategi dan metode untuk menggali realita sosial perempuan

 

Hari 4: Metodologi penelitian dan Analisis (Praktik)

 

  • Teknik pemilihan subjek penelitian, pencarian isu, koleksi data untuk memenuhi kebutuhan data yang dicari

  • Teknik wawancara agar permasalahan bisa digali lebih dalam

  • Teknik penulisan field notes, field logs, dan field journals

  • Manajemen data kualitatif

  • Peran teori atau paradigma dalam membingkai analisis data

  • Membangun argumen yang mengkombinasikan data, intepretasi, referensi dan teori

 

Harapan

Peserta mampu membangun argumen berdasarkan interpretasi data yang diperoleh dengan asumsi teori yang ada

 

Catatan Penting dari Sesi-Sesi:

Bertolak dari pemikiran Frederick Engels 1884 melalui bukunya yang berjudul “The origin of the family, private property and the state”. Sejarah peradaban manusia dimulai dari fase berburu dimana perempuan menduduki posisi penting atas penguasaan lahan atau hunian serta pelestarian keturunan, sementara laki-laki berperan sebagai pencari makanan dengan cara berburu. Pada fase ini garis keturunan berdasar pola matriarkal yakni berdasarkan garis keturunan ibu. Namun dalam perkembangan selanjutnya saat manusia memiliki kebutuhan pemilikan atas asset yang berbasis material, maka relasi kuasa dan pola penurunan garis keturunan mulai bergeser menjadi patriarkal yakni berdasarkan garis ayah/laki-laki. Karena laki-lakilah yang memiliki akumulasi aset material lebih banyak serta memiliki mobilitas lebih tinggi daripada perempuan. Implikasinya dapat dilihat dari munculnya dikotomi peran publik-privat bagi laki-laki dan perempuan, bergesernya prinsip poliandri menjadi monogami atau bahkan menjadi poligami. Akumulasi modal dan penguasaan sektor perdagangan semakin membuat relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki menjadi timpang hingga pada akhirnya menguatlah dan kita kenal sebagai nilai-nilai patriarki—yakni nilai-nilai yang lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan. Lelaki mampu berkembang pesat menguasai berbagai aktivitas di ruang publik, sementara perempuan seolah berjalan di tempat dengan aktivitas pekerjaan yang bersifat reproduktif di ranah privat.


Semangat untuk menggali pengetahuan mulai berkembang pada era-modernitas yakni di abad 16. Pengetahuan adalah gambaran dari kenyataan hidup, yang bisa digali dengan berbagai cara diantaranya dengan kognisi, rasionalitas maupun akal serta nalar. Dalam konteks penelitian prinsip tentang pengetahuan yang didasarkan dari kenyataan hidup menjadi sangat penting. Melalui prinsip ini seorang peneliti didorong untuk menciptakan, menghasilkan pengetahuan yang baru berdasarkan temuan-temuan kenyataan yang diperolehnya di lapangan. Ini yang membedakan peneliti dengan pencari data. Seorang pencari data hanya bergerak untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya di lapangan serta mendeskripsikannya, sementara seorang peneliti bergerak lebih lanjut dengan melakukan telaah dan analisa sebuah data, sehingga menghasilkan sebuah pengetahuan yang baru berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan.


Prinsip penting guna membangun sebuah pengetahuan adalah:

  • Review pada pengetahuan yang sudah ada.

  • Bersikap kritis untuk mencocokan apa yang kurang atau belum ditangkap sebagai pengetahuan.

  • Pengetahuan yang ada harus didefinisikan kembali dengan lebih tepat berbasis pada kenyataan baru yang ditemukan.

  • Pada tahap pengumpulan data, penting bagi peneliti untuk mengenal konsep “kosong”, artinya seorang peneliti harus mampu menahan dirinya untuk tidak menilai informan berdasarkan cara pandangnya sendiri, tidak mudah membuat judgment, pengkategorisasian pada informan. Setiap data yang keluar dari informan mesti dihargai dan diperlakukan sebagai data yang penting untuk dianalisa. Prinsip kosong ini tidak serta merta menafikan adanya stand pointserta keberpihakan peneliti dalam konteks penelitian feminis. Keberpihakan peneliti akan nampak pada fase analisa data temuan yang menggunakan perspektif feminis, sementara pada tahap pengumpulan data sebisa mungkin peneliti bersikap terbuka untuk menyerap sebanyak mungkin informasi dari informan untuk memperkaya temuan. Jadi, pada intinya pengertian “nol/kosong” pada saat melakukan pengumpulan data adalah:

  • Bersikap kritis terhadap teori dan konsep yang sebelumnya dipahami peneliti.

  • Pengetahuan peneliti akan teori dan konsep-konsep pengetahuan tertentu diharapkan justru tidak membatasi peneliti untuk bersikap kritis terhadap fenomena atau realitas temuan di lapangan. Jadi pencarian data tidak sekedar memenuhi kebutuhan untuk mengecek atau mencocokan dengan teori yang ada.

  • Bersikap terbuka untuk menyerap data sebanyak-banyaknya guna mengasilkan pengetahuan baru.

  • Perbedaan antara perempuan di Indonesia dengan perempuan dalam masyarakat modern di Eropa: perempuan dalam masyarakat modern mengalami perubahan di empat aspek (tempat atau ruang, peran dan fungsi, tanggung jawab, dan uang), sedangkan perempuan di Indonesia tidak mengalami perubahan dan masih terkungkung budaya. Di Eropa telah terjadi tiga gelombang atau bingkai berpikir feminisme yaitu menyadari perbedaan sebagai warga negara, memperoleh kesetaraan, serta mengenali dan mengakui keberadaan. Gelombang kedua banyak menjadi basis bagi gerakan sosial. Sementara di Indonesia, gerakan feminisme tidak memiliki periodisasi yang jelas. Meski banyak pengamat mengatakan gerakan feminisme di Indonesia baru sampai gelombang kedua.

  • Bagaimana melakukan pemaknaan tubuh perempuan dalam berbagai konteks, yakni sebagai tubuh individual, tubuh sosial, tubuh politik dan tubuh yang berjiwa atau yang menghayati (mindful body). Pengertian-pengertian tentang tubuh ini sangat membantu dalam menjelaskan betapa subjektifitas serta kesadaran individu perempuan senantiasa berkontestasi dengan realitas norma, nilai dan sistem sosial yang ada di sekelilingnya. Perempuan tidak bisa benar-benar bebas untuk memaknai dirinya sendiri, bahkan ironisnya pada umumnya perempuan tidak memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri, melainkan ditentukan oleh orang-orang di sekitarnya.

  • Bahasa adalah media bertukarnya simbol. Melalui bahasa, identitas bergender terkonstruksi secara sosial. Saat bahasa dianggap sebagai kebenaran (regime of truth), namun karena kebenaran tersebut terkonstruksi secara sosial, maka sebenarnya kebenaran tersebut bisa berubah. Sementara pemahaman tentang logika berbahasa yang digunakan oleh informan membantu peneliti untuk melakukan analisa terhadap data yang diperoleh dari informan, tidak sekedar berdasarkan tuturan lisan melainkan beyond dari itu semua. Karena tuturan lisan (parole) pada sebagian besar perempuan di Indonesia belum mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya yang biasanya ada pada tataran bawah sadar (language). Karenanya, penting untuk selalu melihat konteks budaya serta sistem nilai yang berlaku di sekeliling informan karena itu yang menjadi faktor utama yang mempengaruhi kesadaran informan dalam menyampaikan realitas dirinya.

 

Catatan Penting untuk Workshop WRI di Masa Depan

Usai workshop yang dinamis dan inspiratif, peserta memberikan beberapa masukan terkait dengan keterampilan penelitian yang masih ingin ditingkatkan, seperti:

  • Penelitian dalam praktik, yakni menjelaskan bagaimana penelitian yang ideal secara teknis dilakukan. Pada dasarnya kemarin telah dijelaskan sebagian alur penelitian ideal, namun masih sedikit teknis yang dibicarakan. Sebagai satu contoh adalah bagaimana idealnya bentuk dari field note, field log dan field journal.

  • Manajemen penelitian. Dalam sesi sempat dibahas antara penyesuaian aplikasi bentuk penelitian yang ideal dengan manajemen penelitian. Dalam pembahasan tersebut, terlihat bahwa manajemen penelitian memiliki peranan yang penting untuk mendukung dijalankannya penelitian. Manajemen penelitian ini menarik dibahas ketika melihat fenomena yang ada pada lembaga-lembaga penelitian yang memiliki keterbatasan waktu dan dana dari lembaga donor, tetapi tetap dituntut untuk menjalankan bentuk penelitian yang ideal dengan hasil maksimal.

  • Penelitian dengan menggunakan metode feminis secara teori dan praktik. Sebagai peneliti yang berkonsentrasi kepada isu perempuan dan kesetaraan gender, sudah pasti memerlukan pemahaman yang kuat atas penelitian yang menggunakan metode feminis. Hal ini menjadi semakin penting untuk peneliti WRI, karena penelitian bermetode feminis memiliki kekhususan yang berbeda dengan penelitian umumnya. Termasuk juga gaya penulisannya.

  • Melihat kondisi perempuan Indonesia dalam konteks kekinian dan mengintegrasikannya dengan keyakinan feminisme yang dimiliki. Kerapkali terjadi kebingungan untuk berposisi terhadap suatu permasalahan, misalnya pada afirmatif action bagi perempuan. Disatu sisi merasa harus bergerak ala feminis radikal yang menjadikan perebutan kursi kekuasaan adalah persoalan persaingan yang harus diraih. Tak jarang juga tidak yakin dengan pandangan tersebut dan memilih liberal saja, atau main aman dengan menjadi moderat. Dalam konteks penelitian, ketidakmampuan berposisi bisa terjadi karena dua hal: ketidaktuntasan dalam memahami ruh feminisme atau memang tahu namun tidak berani bersikap.

  • Melihat perempuan dalam perspektif budaya media. Pencitraan perempuan dalam media selalu menarik untuk dilirik. Misalnya muncul pencitraan mengenai perempuan yang tertindas, tergantung dan mengumbar air mata. Namun disisi lain ada pula profil perempuan era 90-an ala chick flicks Sex and The City yang diikonkan sebagai perempuan yang mandiri, tangguh, seksi dan acuh tak acuh, tidak melihat dirinya sebagai korban, dan menginginkan kuasa. Hal ini penting karena ekspansivitas media hingga ruang-ruang privat mau tak mau membuat makna “menjadi perempuan” juga bergeser.

  • Academic writing khususnya untuk penulisan hasil penelitian. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini