Mencari Model Penelitian Feminis dalam Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial, 30 September 2005

Diskusi Terbatas

Mencari Model Penelitian Feminis dalam Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial
(Buku Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial)

Women Research Institute
Jakarta, 30 September 2005



Pengantar

Shulamit Reinharz dalam bukunya tentang Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial yang merupakan terjemahan dari buku aslinya Feminist Methods in Social Research menyebutkan, penelitian feminis adalah metode penelitian yang mempertanyakan persoalan-persoalan identitas dan persoalan-persolan keberbedaan. Hal inilah yang membuat penelitian feminis ini menjadi berbeda dengan metode penelitian lainnya. Yang membuat buku ini sangat menarik adalah pilihannya pada “feminis yang melakukan penelitian” dan bukan “metode penelitian feminis” (h. 6). Kami rasa pilihan ini mencerminkan salah satu perdebatan penting dalam dunia penelitian yakni dikotomi subjektifitas dan objektifitas peneliti. Shulamit Reinharz tampaknya menyadari bahwa dengan menentukan “penyebutan diri dengan sengaja” sebagai feminis akan membatasi pilihan karya-karya yang akan ia kaji. Tapi di sisi lain ia memilih pijakan yang berharga dan memungkinkan kita melihat kedalaman sekaligus keluasan ragam pemikiran feminis serta pilihan masalahnya.

“Buku ini berjudul Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial” dengan memberi penekanan pada sifat keanekaragamannya. Buku ini menyuguhkan fakta bahwa kaum feminis telah menggunakan semua metode yang ada dan sekaligus menemukan metode-metode baru. Praktik penelitian feminis jangan dilihat sebagai ortodoksi, melainkan sebagai pluralitas.” (h. 2).

Dalam buku ini, yang menjadi pegangan banyak program studi gender dan ilmu-ilmu sosial pada universitas-universitas penting di Indonesia dan manca negara, Reinharz mengajak kita semua untuk membahas dua hal penting. Pertama, mengenai “asal-muasal pengetahuan” (the nature of knowledge) baik antar mereka yang memandang dirinya sebagai feminis dan yang bukan. Ke dua, tentang “dilema” yang kerap muncul, bahkan antar peneliti yang memandang diri mereka sebagai feminis, berkaitan dengan persoalan “subyektivitas” (subjectivity), “keragaman” (diversity), “hubungan” (rapport) dan “ilmu” (science).

Buku ini memang bukan merupakan petunjuk teknis untuk melakukan penelitian, melainkan suatu risalah dari banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para feminis, perempuan dan laki-laki. Women Research Insititute (WRI) merasa buku ini telah banyak memberi inspirasi bagi peneliti dan pekerja organisasi perempuan sekaligus juga merupakan gambaran yang mengingatkan kita bahwa ada berbagai cara yang ditempuh para feminis untuk mendefinisikan pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

Pada kesimpulannya Shulamit Reinharz kembali menegaskan pandangannya bahwa “feminisme adalah perspektif, bukan metode”. Kami setuju dengan pendapatnya bahwa feminisme merupakan “sikap kognitif/emosional” dan bukan petunjuk praktis melakukan penelitian (h. 337-338).

Buku ini menyediakan satu dari sekian banyak pintu menuju pemahaman produksi pengetahuan feminis: kritik dan alternatifnya terhadap praktik produksi pengetahuan yang seringkali meminggirkan kehidupan perempuan. Buku ini menawarkan daftar panjang bibliografi karya peneliti feminis untuk kita gali lebih lanjut.

Kami berharap penerjemahan buku ini akan mendorong produksi lebih banyak karya penelitian feminis di Indonesia, baik dari institusi penelitian dan pendidikan, maupun institusi atau non-institusi yang tertarik pada masalah perempuan/hubungan gender. Dengan begitu pada suatu saat nanti mungkin kita bersama-sama akan meneruskan kerja Shulamit Reinharz mengumpulkan dan menyebarluaskan bagaimana para peneliti Indonesia melakukan kerjanya untuk menanggapi permasalahan perempuan dan masyarakat.

WRI berdiri karena keinginan untuk meneruskan kerja kelompok studi dan distribusi tulisan-tulisan tentang permasalahan perempuan yang merupakan latar belakang sebagian besar pendiri WRI. Dalam pengalaman kerja untuk mengembangkan program dan aktifitas menyangkut posisi perempuan di Indonesia, WRI sering sekali menggunakan buku ini untuk perbandingan atau rujukan tentang berbagai cara feminis bekerja memperoleh dan memproduksi pengetahuan. WRI sebagai lembaga penelitian menaruh perhatian pada pengembangan metode feminis dalam penelitian-penetian sosial. Karena, metode feminis berusaha untuk menggali persoalan dari pengalaman perempuan. Bagaimana perempuan di pandang dan memandang realitanya, ada banyak realita yang disuarakan oleh banyak suara perempuan.

Tujuan

  1. Berbagi pengalaman melakukan penelitian dengan menggunakan metode feminis.
  2. Mencari benang merah tentang apa yang disebut dengan metode penelitian feminis.
  3. Upaya awal untuk membangun kelompok peneliti yang menggunakan metode feminis.

Pengantar Diskusi

Dr. Gadis Arivia, Peneliti Feminis
Dr. Aris Arif Mundayat, Antropologi UGM

Diskusi Buku di Yogyakarta

Selain di Jakarta Diskusi buku tentang Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial karya Shulamit Reinharz juga diadakan WRI bekerjasama dengan Universitas Atmajaya Yogyakarta di Yogyakarta pada 5 Oktober 2005.

Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dan kalangan akademisi di lingkungan Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Tampil sebagai Pengantar Diskusi

  1. Judith Lim, dengan makalah berjudul “ Catatan terhadap Buku Metode Feminis dalam Penelitian Sosial”.
  2. Nico Warouw, dengan makalah berjudul “ Perspektif feminis dalam Penelitian Sosial”.
  3. Anne Marie Wattie, dengan makalah berjudul “Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial- Shulamit Reinharz”.
  4. Nasikun, dengan makalah berjudul “ Beberapa Catatan Kecil tentang Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial”.
  5. Y. Argo Twikromo, dengan makalah berjudul “ Kenakalan Para Peneliti Feminis”.
  6. Y. Sari Murti W., SH. M.Hum, dengan makalah berjudul “ Bedah Buku Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial Penulis: Shulamit Reinharz, Kajian dari Ilmu Hukum”.
  7. Lisabona Rahman dari Women Research Institute.***