Training Analisis Gender untuk Pengembangan Pengetahuan, Jakarta, 11 dan 18 Oktober 2010

LATAR BELAKANG

Women Research Institute (WRI) bertujuan mendorong dan menguatkan kapasitas para peneliti lokal agar komunitas penelitian semakin luas terutama tersebar di berbagai daerah. Berkaitan dengan hal tersebut WRI menyelenggarakan sebuah rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas dalam pengembangan sektor pengetahuan berupa ‘Training Analisis Gender’.

Program peningkatan kapasitas ini bertujuan untuk menguatkan penguasaan kemampuan analisis gender untuk temuan penelitian maupun kajian isu perempuan dan/atau gender lainnya agar hasil penelitian berkualitas dan dapat memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan. Secara khusus diharapkan setiap peserta saling bertukar pengalaman atau informasi untuk menajamkan kemampuan penerapan analisis gender yang berkaitan dengan kepentingan perempuan.

Tujuan

  1. Meningkatkan kapasitas peneliti dan partisipan lain yang tertarik kepada pengembangan pengetahuan.
  2. Meningkatkan pemahaman utuh gender sebagai perspektif dan alat analisis
  3. Menumbuhkan forum saling belajar diantara peneliti.


Peserta

Training ini dihadiri oleh 15 orang peserta yang terdiri dari tiga orang peserta masing-masing dari tiga lembaga jaringan luar WRI yaitu: Yayasan Jurnal Perempuan, RAHIMA dan SMERU dan 12 orang peserta dari internal WRI. Selama training ini berlangsung, dipandu oleh seorang fasilitator (Myra Diarsi), dan dua orang pengamat/observer (Sita Aripurnami dan Edriana Noerdin).

PROSES

Senin, 11 Oktober 2010

Materi yang didiskusikan adalah:

  1. Gender sebagai alat analisis dengan perpektif feminis
  2. Peta masalah-masalah gender related dari pengalaman temuan-temuan para peneliti
  3. Pokok-pokok penting dalam analisis gender

Diskusi yang dilakukan lebih banyak menggali pemahaman peserta mengenai apa itu gender. Dalam prosesnya pertanyaan awal yang diajukan adalah: ‘Sampai dimana pemahaman saya mengenai gender?’

Setiap peserta diajak untuk berpikir secara kritis, mengenai pemahaman gender. Diketahui bahwa dari diskusi yang berlangsung formulasi tentang gender adalah konstruksi atau bentukan sosial budaya yang dilekatkan kepada laki-laki dan perempuan (jenis kerja dan karakter). Padanan kata ‘gender’ lebih dapat diterima karena secara politis dianggap ‘lebih lunak’ dibandingkan dengan menggunakan kata feminisme untuk berbicara mengenai isu hak perempuan dan kesetaraan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Pemahaman terhadap perbedaan gender dengan alat kelamin pada laki-laki dan perempuan, membawa diskusi yang berlangsung pada definisi tentang feminisme, yaitu sebuah kesadaran kritis yang berdasar pada pengalaman perempuan. Yaitu bagaimana bisa mengubah multi layer power relation yang timpang. Feminisme kemudian menentukan cara pandang dalam melihat realitas sosial. Karena feminis menggunakan pengalaman perempuan dalam melihat realitas sosial, ia sangat menghargai pengalaman yang berasal dari ranah privat. Pointnya adalah pengetahuan itu dapat digunakan dalam ‘membedah’ dan menganalisa hubungan relasi kuasa yang timpang.

Melalui diskusi ini diketahui bahwa kesadaran kritis mengenai hak dan kewajiban untuk mencapai kesetaraan tidak statis, namun bertumbuh secara dinamis. ‘Feminis’ tidak sekedar label atau penyebutan, namun lebih dari itu, ia bisa mengubah relasi yang timpang yang tidak adil menjadi adil. Tidak hanya pada orang lain, namun juga pada dirinya sendiri. Poin pentingnya adalah kejujuran saat mengidentifikasi dan merefleksi (dan introspeksi diri) sampai dimana pemahaman dan kesadaran kritis kita untuk menjadikan situasi yang tidak adil menjadi lebih adil. Berdasarkan hasil diskusi inilah, pertanyaan berikutnya yang diajukan adalah: ‘Apa yang dibutuhkan dalam menajamkan analisis gender?

Sebagai seorang Feminist Reseacher—ia harus me-recognisi terhadap pengalaman dirinya. Ia harus punya pegangan; ia tahu apa alat ukur yang digunakan; ia tidak boleh ‘awam’ dengan hanya menggunakan pengalaman pribadi.

Diketahui bahwa analisa gender dapat dilakukan di berbagai ranah yaitu Pribadi, Keluarga, Pranata Sosial, Agama, Hukum dan Negara. Gender juga tidak melulu mengenai perempuan. Gender ≠ Perempuan. Laki-laki pun bisa menjadi korban dari konstruksi gender yang bias.

Peserta dirangsang untuk berpikir ulang mengenai apa itu gender dan bagaimana menajamkan analisa gender. Pertanyaan berikutnya adalah:‘Bagaimana mengaplikasikan analisis gender dalam keseharian?

Terdapat hagemoni dominasi laki-laki dalam realitas sosial yang mensakralkan segregasi (pembagian) konstruksi gender antara laki-laki dan perempuan agar tetap pada tempatnya dan tidak bisa dipertukarkan. Hegemoni ini terkadang tidak disadari, ataupun kalau menyadari sebagian orang (baik laki-laki maupun perempuan) tetap melanggengkannya pada posisi comfort zone.

Bicara soal segregasi gender antara laki-laki dan perempuan, berdampak pada pelabelan, pencapaian dan bahkan stigma tertentu terhadap laki-laki, juga khususnya perempuan. Realitas sosial kehidupan kita sangat kuat dan tegas membentuk segregasi gender antara laki-laki dan perempuan. Segregasi gender tersebut sebenarnya sangat berkaitan dengan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah:

  1. Perempuan tidak mempunyai hak otoritas atas tubuhnya – atau ‘ketubuhan’
  2. Perempuan tidak punya akses dan pengetahuan
  3. Perempuan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Setiap peserta dalam diskusi ini memahami bahwa ada ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Fasilitator mencoba memberikan analogi sebuah timbangan mengenai posisi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Dalam upaya merubah relasi yang timpang antara laki-laki dan perempuan dibutuhkan sebuah timbangan yang sejajar dan setara. Bukan pula timbangan yang lebih meringankan posisi perempuan untuk lebih ‘superior’ terhadap posisi laki-laki. Upaya menciptakan relasi yang setara dan adil bagi perempuan dibutuhkan:

  1. Kontrol atau kendali
  2. Akses
  3. Partisipasi
  4. Perempuan menerima dan merasakan manfaatnya
  5. Kepentingan perempuan terwakili.



Senin, 18 Oktober 2010

Materi yang didiskusikan adalah:

  1. Sharing studi kasus setiap lembaga peserta untuk dapat memetakan analisis gender, tantangan dan kendalanya.
  2. Integrasi feminist stand point ke dalam analisis gender; latihan teori ke praksis.
  3. Kebutuhan khusus individu peneliti untuk mengembangkan metode penelitian feminis.

Pada sesi awal setiap peserta diajak untuk mereviu materi yang telah didiskusikan pada minggu lalu untuk kembali memetakan apakah masih ada kesulitan dalam menggunakan analisa gender. Fasilitator memberikan pertanyaan: ‘Apa hubungan antara feminisme dengan analisa gender?

Dalam realitas sosial dengan menggunakan kacamata feminis, secara khusus dapat melihat pengalaman perempuan sebagai basis pemetaan terhadap ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan. Melalui ‘kacamata’ feminis kita akan memahami latar belakang dari: 1) Pemaknaan terhadap kerja dan 2) Penghargaan terhadap kerja.

Diketahui bahwa dalam realitas sosial, pembagian laki-laki dan perempuan bisa saling bertukar--- namun karena kuatnya segregasi gender dalam masyarakat, pembagian itu menjadi sangat kaku dan ajeg, bahkan tidak bisa dipertukarkan. Dampak gender terhadap pemaknaan kerja adalah adanya Cap-Label-Stereotipe bahkan Stigma.

Dipahami bahwa dengan menggunakan cara pandang feminis kita dapat membongkar konstruksi yang telah dihegemoni (dekonstruksi). Lebih lanjut, cara pandang feminis melatih diri kita untuk lebih kritis dalam melihat realitas sosial.

Melalui diskusi dan pemetaan bersama oleh peserta, terdapat beberapa bangunan sosial dari berbagai unsur dimana terjadi ketimpangan gender yang meliputi: Pribadi, Keluarga, Pranata Sosial, Bahasa dan Budaya, Agama, Hukum dan Negara.

Ketimpangan gender ini kemudian membuat sebuah istilah bahwa beban perempuan bekerja yang harus ditanggung ‘mulai dari matahari terbit, hingga mata bapak terbenam’. Yang artinya dari pagi hingga malam, berpuluh-puluh pekerjaan harus dilakukan oleh perempuan tanpa adanya penghargaan dan pembagian kerja yang adil.

Ketidaksadaran mengenai beban ganda yang ditanggung oleh perempuan terjadi karena adanya Kuasa (Power) yang bekerja sangat sistematik. Kuasa (Power) ini menjadi tidak terlihat karena ia dihegemoni oleh laki-laki dalam sistem patriarki. Namun, ada juga perempuan yang ikut mengamini hagemoni tersebut dengan bersikap ‘nrimo’ dan menganggap bahwa apa yang menimpa diri mereka adalah sebuah "kodrat".

Diskusi ini kemudian mencapai tahapan dengan mengemukakan pertanyaan: ‘Apa enak dan keuntungannya belajar Gender?

Keuntungannya adalah baik laki-laki maupun perempuan menjadi kritis dan mempunyai inisiatif untuk berpikir ulang (mendekonstruksi) hagemoni untuk mencegah perempuan dimarginalkan.

LESSONS LEARNT

Pembelajaran yang didapat dari proses training secara khusus ketika memasuki sesi pembahasan aspek-aspek analisis gender dalam temuan penelitian: Contoh studi kasus pengalaman masing-masing lembaga. Setiap peserta yang mewakili lembaga masing- masing mengungkapkan kendala yang pernah dihadapi serta kebutuhan apa yang ingin didapatkan lebih lanjut.

  • Pengalaman melakukan penelitian ‘Partisipasi Perempuan dalam Politik’. Pemilu dengan ‘suara terbanyak’, namun dalam kontestasinya tidak ada proporsi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.
    Secara khusus perempuan tidak menguasai atau mengendalikan sumber daya sehingga ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Akhirnya dalam pengambilan keputusan, laki-lakilah yang selalu menjadi keutamaan. Selain itu, mengapa keterwakilan perempuan di ranah politk sangat sedikit karena perempuan dianggap tidak mempunyai relasi yang luas.
    Kesulitan yang menjadi kendala adalah menemukan data statistik. Data yang ada hanya terpilah laki-laki dan perempuan, namun tidak ada analisis gender.
  • Kendala lain adalah bagaimana membangun rapport (hubungan) dengan narasumber untuk dapat membangun trust. Contoh kasusnya ketika mewawancarai Pekerja Seks Komersial (PSK) yang diindikasi Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA).
  • Sejauh ini ‘analisa gender’ justru membantu peneliti untuk berpikir kritis dalam mencari data-data yang bersifat ‘tertutup’ dan sensitive. Dengan menggunakan feminist frame work, peneliti menjadi lebih mudah melakukan pemetaan relasi kuasa untuk melihat, menganalisis dan melakukan penelitian.
  • Banyaknya silent majority pada narasumber (perempuan akar rumput), terkadang data menjadi flat dan tidak ada dinamikanya. Jadi ada kendala terhadap pemilihan data yang akan dipakai dalam melakukan analisa.
  • Sumber daya juga menjadi kendala dalam melakukan penelitian. Seringkali peneliti juga tidak mempunyai basis pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan analisa gender. Akhirnya koordinator penelitian (bukan peneliti) yang berperan untuk menelusuri kembali satu persatu transkrip dan verbatim hasil wawancara.
  • Pentingnya menggunakan analisa gender dalam rangka menghindarkan bias peneliti. Bias gender dalam hasil penelitian ini juga biasa terjadi pada peneliti yang merupakan aktifis, ataupun peneliti yang berasal dari kalangan akademisi. Seperti yang ia sebutkan bahwa bias dapat terjadi ketika melihat persoalan: gender, kelas sosial, latar belakang narasumber, posisi narasumber sebagai ‘yang tahu’, posisi narasumber sebagai ‘yang diberitahu’ dan kepercayaan.

Bagaimana peneliti menghindari bias yang terjadi dalam dirinya sendiri. Setelah setiap peserta saling berbagi, fasilitator membuat pemetaan mengenai Feminist Frame-work sebagai alat analisis gender dalam berbagai aspek meliputi:

  1. Kekuatan sumber daya untuk modal ekonomi
  2. Cara perempuan dalam pengalamannya sebagai pemimpin
  3. Kondisi sosial masyarakat yang bersifat altruistic
  4. Sumber pengetahuan antara laki-laki dan perempuan yang berbeda
  5. Bahasa yang masih didominasi oleh sifat patriarki
  6. Citra anggapan normative

Dengan menggunakan analisa gender, terkait dengan faktor dan aktor, seorang peneliti bisa memahami Siapa dan Mengapa partisipasi perempuan dalam ranah publik harus melibatkan tiga hal:

  1. Present (kehadiran)
  2. Represent (keterwakilan)
  3. Influence (pengaruh)

Sesi pembelajaran ini ditutup dengan sesi evaluasi dan rekomendasi dari peserta mengenai proses training yang berlangsung selama dua hari. Adapun proses evaluasi dan rekomendasi, setiap peserta diberikan lima pertanyaan untuk merefleksikan dirinya terkait dengan peningkatan kapasitas yang telah didapatkan. ***