Kursus Kepemimpinan Keenam Gender, Seksualitas, dan Kesehatan di Asia Tenggara dan China, Thailand

Laporan Program

Penguatan Kapasitas Women Research Institute

Thailand, 27 Agustus – 15 September 2007



Latar Belakang

Kegiatan peningkatan kapasitas bagi para staf WRI dirancang untuk mendorong kepercayaan diri dan meningkatkan kompetensi dalam merumuskan, menerapkan dan memantau strategi yang layak dan dapat diterapkan; dan mengevaluasi pengaruhnya dalam sebuah periode tertentu. Sebagai sebuah lembaga penelitian, staf WRI seharusnya memiliki pengalaman yang memadai untuk menjalankan sebuah penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Dan juga membutuhkan keahlian atau kompetensi dalam membuat analisis yang bagus agar dapat memberikan kontribusi bagi perbaikan kondisi dan posisi kaum perempuan di Indonesia.

Tujuan Kegiatan

Kegiatan ini bermaksud untuk:

  1. Meningkatkan pengetahuan pihak lain tentang WRI baik nasional maupun internasional dengan cara berpartisipasi dalam Kursus Kepemimpinan Ke enam tentang Gender, Seksualitas, dan Kesehatan di Asia Tenggara dan China
  2. Memberikan pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan seksual yang peka terhadap gender dan sesuai konteks Asia Tenggara dan China. Perhatian khusus akan diberikan kepada penggalian tentang bagaimana konsep dan kerangka teoritis, khususnya teori-teori sosio-kultural dan gender, dapat diterapkan dalam kebijakan dan intervensi.
  3. Menggali perspektif gender dan sosio-kultural yang dapat diterapkan dalam penelitian, pelatihan, advokasi, perumusan kebijakan dan evaluasi agar dapat meningkatkan program-program kesehatan reproduktif dan seksual di dalam kawasan ini.
  4. Perluasan jaringan dengan para peserta lainnya dari kursus kepemimpinan ini dapat memperluas cakrawala para peneliti WRI dan memperluas akses mereka kepada pertukaran informasi dengan anggota jaringan tersebut

Kegiatan selama Periode Hibah
I. Minggu Pertama (27 Agustus – 2 September, 2007)

Perspektif Teoretis: konsep dan kerangka kerja

| Image 1 of 10 |
Kursus Gender, Seksualitas, dan Kesehatan
Dalam minggu pertama para peserta saling berkenalan tentang latar belakang dan harapan mereka serta mencari tahu informasi tentang susunan kursus dan aturan mainnya. Peserta belajar dan mendalami konsep seksualitas, gender dan tubuh, tubuh perempuan, tubuh laki-laki, tubuh seksual, body politics, dan bagaimana hal-hal ini mempengaruhi konteks individual, keluarga, komunitas, masyarakat, dan kehidupan global. Materi-materi ini diperoleh para peserta dari handout, buku dan artikel yang diperlukan dalam presentasi, dan juga dari diskusi-diskusi kelompok yang memberikan banyak pemahaman kepada peserta. Pada akhir minggu pertama para peserta melakukan satu hari kunjungan lapangan ke Chatujua, Varacak, Wat Pho, dan Grand Palace untuk mempelajari norma-norma seksualitas dan penerapannya di tengah masyarakat.

II. Minggu Kedua (3-9 September, 2007)

Perspektif Teoritis: Konteks dan Struktur
Dalam minggu kedua para peserta belajar tentang konsep-konsep struktur kekuasaan dan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi dan seksual dan juga tentang sejarah struktur kekuasaan, kesehatan masyarakat, dan pengaruh-pengaruh dari media, agama, Negara, dan proses migrasi terhadap ketimpangan gender dan ketimpangan sosial. Di sini juga dipelajari bagaimana kita dapat mendorong kaum perempuan untuk meningkatkan perjuangannya melalui lembaga-lembaga mereka dan melakukan negosiasi dalam berhadapan dengan situasi ketidaksetaraan dalam konteks relasi seksual dan sosial. Misalnya, persoalan pemberdayaan kaum perempuan untuk memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan seks yang aman dan mendapatkan perlindungan bersama pasangannya dan akses kepada pelayanan kesehatan. Bahan-bahan belajar diperoleh peserta dari handout, bahan presentasi, buku dan artikel, film dan juga dari diskusi kelompok.

Pada hari kesebelas para peserta pindah ke Rayong dan menginap di Kanary Bay Resort selama 4 hari. Ada tiga kunjungan lapangan yang dilakukan, yaitu:

  1. Kunjungan lapangan ke Center for AIDS Rights (CAR), Rayong: Cross-Border Migrations, Gender, Sexuality and Health. Di sini para peserta melakukan wawancara dengan para pekerja migran di tempat kediaman dan juga di tempat kerja mereka untuk memperoleh gambaran tentang situasi para pekerja migran tersebut. Kami mendapatkan pelajaran berharga tentang fakta-fakta tentang kehidupan para pekerja migran baik yang legal maupun yang ilegal. Para peserta juga belajar tentang struktur CAR, kegiatan dan jaringannya untuk melindungi/mencegah para pekerja migran dari jangkitan HIV/AIDS.
  2. Kunjungan ke One Stop Crisis Center, Rayong Hospital: Health Services for Victims of Gender-Based Violence. Di sini para peserta belajar tentang persoalan kekerasan, struktur OSCC, jaringan untuk pelayanan kesehatan bagi korban kekerasan terhadap perempuan. Banyak pelajaran diperoleh dalam kunjungan ini terutama peran One Stop Crisis Center yang dapat dibandingkan dengan peran organisasi Women Crisis Center di Indonesia.
  3. Kunjungan ke Sister Office, Pattaya, Chonburi: Outreach Programmes for Trangender Sex Workers. Organisasi para suster ini memulai pekerjaan mereka sebagai pusat konsultasi kesehatan bagi kaum trans-gender, pada 2005. tempat ini merupakan tempat dimana para kelompok trans-gender mendapatkan perlakuan hormat yang patut dan tidak dengan semena-mena dipersalahkan, tempat dimana mereka dapat merasa aman, belajar tanpa harus digurui, dan berkembang ke arah masa depan yang lebih positif dalam hal perilaku yang aman dan menghargai diri. Kegiatan-kegiatan pencegahan HIV dilakukan dengan cara peer-based, di mana dengan penuh kehati-hatian mereka akan dibaurkan kembali dengan masyarakat.

III. Minggu Ketiga (10 - 15 September, 2007)

Penelitian yang peka terhadap gender dan konteks, Program Advokasi dan Intervensi: Penerapan Perspektif Teoritis
Pada minggu ketiga, para peserta diajak untuk memusatkan perhatian pada presentasi kerja lapangan, namun pada awalnya peserta belajar dulu tentang penelitian yang peka terhadap gender dan konteks, program intervensi, dan advokasi tentang seksualitas dan kesehatan seksual (Studi Kasus). Para peserta juga diminta untuk memetakan kembali isu-isu kesehatan di Asia Tenggara dan China. Para peserta diberi waktu dua hari untuk menyiapkan perancangan ulang proyek dan mereka harus mempresentasikan proposal proyek. Semua presentasi kerja lapangan sangatlah penting karena para peserta dapat belajar tentang bagaimana menerapkan perspektif teoretis ke dalam konteks sosial melalui proposal dengan mendapatkan asistensi dari pelatih. Ada tiga orang pelatih yang mendampingi para peserta dan membantu mereka dalam mengembangkan proposal.

Hasil dari kegiatan

  1. Memperkuat perspektif kritis teoritis tentang gender, seksualitas, dan pemahaman sosio-kultural, konteks politik dan historis dari gender dan seksualitas di Asia Tenggara dan China
  2. Kemampuan untuk menggali perspektif-perspektif tersebut untuk diterapkan ke dalam penelitian, pelatihan, advokasi, perumusan kebijakan, dan evaluasi program perbaikan kesehatan seksual dan reproduktif dalam kawasan terkait.
  3. Terbentuknya jaringan dengan peserta lainnya yang akan memperluas wawasan dari staf WRI dan akses ke pembagian informasi dengan mereka

Capaian Program

Ada beberapa capaian dari program ini. Pertama, para staf WRI telah meningkatkan kapasitas mereka dalam isu hak asasi kaum perempuan melalui keterlibatannya dalam Kursus Kepemimpinan Keenam tentang Gender, Seksualitas, dan Kesehatan di Asia Tenggara dan China. Staf WRI juga mendapatkan kepekaan dalam menganalisa posisi dan kondisi kaum perempuan terkait dengan isu gender, seksualitas dan kesehatan dengan menggunakan perspektif gender. Selain itu juga diperoleh pengetahuan dan pengalaman baru dari peserta lainnya yang memberikan wawasan atau membuka pikiran baru dalam konteks mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan kaum perempuan.

Kedua, staf WRI telah mengembangkan jaringan dengan Mahidol University dan dengan Southeast Asian Consortium on Gender, Sexuality and Health. Konsorsium ini sudah mengumpulkan sumberdaya dan keahlian untuk mengembangkan program training regional. Kursus tahunan ini akan dilakukan bergilir di kalangan peserta Asia Tenggara.

Dengan terlibat di dalam kursus ini WRI akan mencari peluang untuk menjalin perkawanan dengan organisasi perempuan lainnya di Asia Tenggara dan China untuk berbagi pengalaman dan gagasan tentang kesehatan reproduktif, gender, dan seksualitas. Dengan demikian WRI diharapkan dapat mengembangkan strategi mengenai bagaimana meningkatkan kemampuan kaum perempuan untuk menciptakan akses ke dalam sumberdaya-sumberdaya khususnya yang berkaitan dengan otoritas daerah dalam hal peningkatan partisipasi kaum perempuan.

WRI juga telah mengawali pengembangan jaringannya dengna berbagai organisasi lainnya di Asia Tenggara dan China seperti: Reproductive Health Association of Cambodia (RHAC); UNFPA Myanmar; Royal University of Phonm Penh, Research and Education Center in Sexual Health, Harbin Medical University, China; Institution of Populating Program Management, China; Yayasan Mitra Kesehatan & Kemanusiaan (YMKK), Indonesia; Care Indonesia, Ministry of Health Hygiene and Prevention Departement Mother and Child Health Division, Lao PDR; Burner Institute, Loa PDR; Muslim Uplitment Foundation in Tawi-Tawi, Philippines, AIDS Network Development Foundation, Thailand; Non-Communicable Diseases Information Center Thailand; An Giang Provincial Reproductive Health Care Center Vietnam; Hanoi School of Public Health Vietnam, Tu Du Hospital Vietnam; Community Health Development Organization, Vietnam; Beijing Gender Health Education Institute.

Organisasi-organisasi ini mengirimkan peserta dan telah saling membagikan informasi dan pengalaman dalam berbagai isu yang terkait dengan fokus kerja masing-masing mereka. Staf WRI mendapatkan sejumlah pengalaman dan pengetahuan baru dalam pertukaran informasi dan pengalaman ini dalam isu kesehatan reproduktif, hak kaum perempuan, pelayanan dalam kesehatan reproduktif, pusat kajian krisis untuk kaum perempuan, advokasi dan pelayanan bagi kaum pekerja migran. Semua capaian ini telah memberikan manfaat bagi organisasi WRI yang diharapkan akan menyumbang dalam peningkatan kualitas penelitian dan advokasi yang dilakukan WRI. ***