Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: DFM NEWS, Selasa, 30 Maret 2010


Tak kurang dari 59 persen perempuan di Indonesia melakukan proses persalinan di rumah. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) yang dilakukan dalam kurun 2007-2008. Direktur WRI, Edriana Noerdin mengatakan, penelitian tersebut dilakukan di tujuh kota dan kabupaten di Indonesia. Ia menyebut, faktor biaya kerap menjadi alasan kenapa rumah dipilih sebagai tempat persalinan. Kalau memakai dukun bayi, biaya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan memakai bidan. Selain itu, bidan juga kerap susah dihubungi. Dia mengatakan, sering ditemuinya seorang bidan yang harus melayani masyarakat dari dua desa. Dengan keterbatasan tenaga itu, kerap menjadi alasan bidan untuk ditemui.

Sumber: TEMPO Interaktif, Rabu, 7 April 2010


TEMPO Interaktif, Menjelang malam, Mutiara terkejut melihat darah mengucur dari jalan lahirnya. Karena takut, suaminya memanggil dukun di lingkungan Rancak, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Dukun kemudian memijat perut Mutiara, sambil memberi tahu bahwa janinnya yang berusia tiga bulan itu meninggal dalam kandungan.


Mutiara, yang kini berusia 35 tahun, sekarang sudah memiliki tiga anak. Dari ketiga anaknya itu, cuma satu yang dilahirkan di tangan bidan. Tidak lain motifnya adalah ekonomi, dan kepercayaan tingkat tinggi kepada dukun. Mutiara menceritakan testimoni keguguran kandungannya dalam buku Target MDGs Menurunkan Angka Kematian Ibu Tahun 2015 Sulit Dicapai.

Sumber: buletininfo.com, Jumat, 28 Oktober 2011


Jakarta, Wakil Ketua Pansus Rancangan Undang-Undang Pemilu asal Partai Golkar Taufiq Hidayat pada Jumat (28/10/2011) di Jakarta, mengatakan bahwa partai politik tidak resisten atas keterwakilan perempuan di parlemen minimal 30 persen.


"Tidak ada resistensi dari partai politik untuk kuota minimal perempuan 30 persen di parlemen, namun pada kenyataannya hingga saat ini belum tercapai angka tersebut," kata Taufiq dalam seminar Representasi Politik Perempuan yang diselenggarakan oleh Women Research Institute.

Sumber: Media Indonesia, Jumat, 28 Oktober 2011
Penulis: Scherazade Mulia Saraswati


JAKARTA--MICOM: Di Indonesia, penerapan kuota gender untuk pencalonan anggota legislatif dimulai pada Pemilu 2004 melalui aturan 30%. Meski telah terjadi peningkatan signifikan keterwakilan perempuan dalam pemilu legislatif, tetap saja masih dianggap belum cukup.


Hal itu dikemukakan oleh anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Taufiq Hidayat. Menurutnya, apa yang dicapai dari Pemilu 2009 lalu, di mana keterwakilan perempuan hampir mencapai 18% dianggap masih kurang.

Sumber: ANTARA, Jumat, 28 Oktober 2011


Kuota keterwakilan perempuan bukan hanya 30% di atas kertas namun juga menduduki DPP partai


Keterwakilan perempuan dalam politik diusulkan bukan hanya minimal 30% namun juga masuk dalam jajaran kepengurusan pusat partai. Klusul ini hendak dimasukkan dalam RUU Pemilu yang sedang dibahas.