Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: health.liputan6.com, 22 Desember 2013
By Fitri Syarifah

Dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak, Indonesia sepertinya masih kalah dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia. Bagaimana tidak, bukannya menurun, jumlah kematian ibu dan anak malah meningkat. Lantas, ada apa sebenarnya?

Menurut pendiri lembaga riset perempuan Women Research Institute (WRI), Edriana Noerdin, berdasarkan data SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2012, jumlah angka kematian ibu dan anak tercatat mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Rata-rata kematian ini jauh melonjak dibanding hasil SDKI 2007 yang mencapai 228 per 100 ribu.

Sumber: liputan6.com, 21 Desember 2013

By Fitri Syarifah

 

Banyaknya dokter yang berpusat di kota-kota membuat layanan kesehatan daerah semakin kekurangan dokter. Untuk mengatasi hal tersebut para pengamat mengatakan, semestinya dokter yang bekerja di daerah terpencil tak hanya mendapatkan insentif berupa uang tapi beasiswa untuk sekolah lagi.

 

Seperti disampaikan oleh Pakar Asuransi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr.drg.Jaslis Ilyas, MPH. Ia mengatakan bahwa untuk menjaring para dokter muda supaya mau ke daerah itu memang harus ada reward atau insentif yang jelas.

Sumber: www.theorgasm-project.com, 31 Desember 2013

 

Women Research Institute (WRI) mengadakan seminar yang bertema Hak Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual pada Remaja (HKSR) pada 18 Desember 2013 di Hotel Grand Kemang, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh direktur eksekutif WRI, Sita Aripurnami, dengan psikolog Ratih Ibrahim sebagai moderator. Adapun para narasumbernya adalah Faikoh (Aliansi Remaja Independen/ARI), Drs. Taufiq Rahman (Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta), Maria Ulfah (Komisi Perlindungan Anak Indonesia/KPAI), dan Roi Tjiong (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia/PKBI).

Sumber: The Jakarta Post, Jakarta | Thu, December 19, 2013

Indah Setiawati

 

Regina Tantri Tionaomi is among the many Jakarta teenagers who have never been taught about sexual and reproductive health. The 12th grader in senior high school SMA 106 in East Jakarta said she and her peers usually found the answers by themselves to their questions about pregnancy and secondary sexual characteristics.

 

“A friend shared her anxiety over her small breasts and that she was too ashamed to talk about it with her parents. Others were curious whether someone could really get pregnant through unsafe sexual intercourse,” she told The Jakarta Post on Wednesday.

Sumber:Beritakota Birosulsel, Selasa, 17 Desember 2013 

 

Jakarta, Beritakota Online - Banyak kemajuan di bidang kependudukan yang dicapai sejak Konferensi Internasional tentang Pembangunan dan Kependudukan atau ICPD di Kairo tahun 1994. Namun, tujuan ICPD, yakni pelayanan terkait hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual yang komprehensif, masih jauh dari memadai.

 

Jumlah pemuda di kawasan Asia Pasifik mencapai separuh populasi orang muda di dunia. Di Indonesia sendiri satu dari lima orang adalah mereka yang berusia antara 15 – 24 tahun atau sekitar 63 juta jiwa (33% penduduk Indonesia), namun kebijakan Indonesia dan agenda program belum terlalu memperhatikan remaja. Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 memang sudah mengatur hak dan kewajiban akan pelayanan kesehatan, tanggung jawab pemerintah untuk penyediaan pelayanan kesehatan termasuk penyediaan sumber daya agar sektor kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.