Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Hutan, menjadi ekosistem yang berperan penting dalam menjaga stabilitas perputaran iklim sekaligus menaungi sebagian besar keanekaragaman hayati di dunia. Namun, saat ini keberlangsungan ekosistem hutan Indonesia kian terancam. Peristiwa kebakaran hutan seolah menjadi bencana iklim tahunan yang sudah dimaklumi oleh masyarakat,khususnya di daerah Sumatera, Kalimantan dan Papua yang merasakan dampak kabut asap hasil pembakaran hutan dan lahan. 

 

Tercatat, pada periode 2010 - 2014, rata-rata luasan lahan tutupan pohon yang hilang setiap tahunnya adalah sebesar 1,5 juta hektar. Kondisi ini tidak sebanding dengan laju reforestasi yang terjadi di Indonesia adalah 866,75 ribu hektar per tahun. Dengan tidak seimbangnya laju deforestrasi dan reforestasi tersebut, hutan Indonesia kian lama akan semakin gundul dan kondisi perubahan iklim di dunia pun akan semakin berdampak buruk.

 

WRI dalam hal ini melakukan penelitian di tahun 2016 untuk melihat bagaimana dampak kebakaran dan kabut asap terhadap perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Dari berbagai dampak, WRI menemukan kasus-kasus yang dituliskan secara khusus.

 

Untuk dapat melakukan upaya peningkatan kesejahteraan perempuan dalam pengelolaan hutan, Konsorsium YWRI menginisasi beberapa tahap intervensi. Tahap pertama adalah melakukan budidaya tanaman untuk menyiapkan bahan produksi. Tahap kedua adalah pelatihan keterampilan pengolahan produk. Tahap ketiga adalah proses produksi dan pemasaran.

 

Berdasarkan hasil riset potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), diketahui bahwa tanaman kakao dan pala merupakan komoditas potensial yang dapat dikembangkan pada wilayah kerja Konsorsium YWRI di Sumatea Barat. Tanaman kakao potensial dikembangkan di Nagari Lubuk Malako dan Nagari Padang Gantiang – Kabupaten Solok Selatan serta Nagari Barung-Barung Belantai Selatan – Kabupaten Pesisir Selatan. Sedangkan tanaman pala potensial dikembangkan di Nagari Kapujan Koto Berapak – Kabupaten Pesisir Selatan.

 

Kabut asap di Riau adalah bencana yang berkepanjangan dan berdampak serius pada hampir seluruh sektor kehidupan. Salah satu sektor yang paling berdampak adalah sektor pendidikan. WRI dalam hal ini melakukan penelitian di tahun 2016 untuk melihat bagaimana dampak kebakaran dan kabut asap terhadap perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Dari berbagai dampak, WRI menemukan kasus-kasus yang dituliskan secara khusus.

 

Kabut asap yang melanda provinsi Riau selama hampir 3 bulan di tahun 2015 membuat lebih dari 1,5 juta anak sekolah harus mengalami gangguan belajar akibat asap. Hilangnya jam pelajaran karena kondisi lingkungan yang tidak kondusif untuk kegiatan belajar mengajar membuat sektor ini merugi. Selain kerugian hilangnya jam belajar anak, kajian awal dampak kabut asap terhadap perekonomian Riau tercatat menimbulkan kerugian sebesar 20 miliar rupiah.

 

Hasil penelitian menunjukkan terdapat berbagai persoalan yang dihadapi siswa ketika sekolah diliburkan. Halini menjadi dilema bagi para pendidik dalam melaksanakan tugas dan perannya. Melihat persoalan tersebut, diidentifikasi juga bagaimana respon pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menangani dampak kabut asap di bidang pendidikan. Tidak hanya itu, penelitian juga mengidentifikasi bagaimana penanganan dampak kabut asap terhadap sektor pendidikan pada saat pasca bencana.

 

Simak informasi lengkap hasil penelitian pada dokumen berikut: Lembar Fakta_Seri Kabut Asap_Pendidikan

 

Permasalahan kemiskinan menjadi bagian penting dalam pembangunan pedesaan, karena mayoritas golongan miskin di desa adalah kaum perempuan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kesempatan untuk memperoleh informasi dan pengetahuan baru, memperoleh sumber-sumber kegiatan ekonomi serta aktifitas produktif lainnya.

 

Untuk menjawab persoalan tersebut, Konsorsium YWRI melakukan program Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan pada empat nagari di Sumatera Barat dengan memberikan akses dan manfaat kepada kelompok perempuan dalam mengelola tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Program ini selain mendorong pengelolaan lingkungan yang baik, juga bertujuan untuk meningkatkan perekonomian perempuan.

 

Pada September 2015, Bank Indonesia mengumumkan hasil assessment mereka bahwa dampak kabut asap terhadap peningkatan harga karena terganggunya jalur distribusi kebutuhan pokok melalui darat, sungai dan laut belum begitu serius. Meski begitu, dalam Focus Group Discussion dan Multi Stakeholder Forum yang dilakukan oleh Women Research Institute setahun kemudian dengan kelompok masyarakat di tiga tempat berbeda, terungkap bahwa mayoritas partisipan merasakan adanya peningkatan harga barang kebutuhan pokok serta penurunan omzet para pengusaha kecil dan juga gangguan pada komoditas pertanian. 

 

WRI dalam hal ini melakukan penelitian di tahun 2016 untuk melihat bagaimana dampak kebakaran dan kabut asap terhadap perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Dari berbagai dampak, WRI menemukan kasus-kasus yang dituliskan secara khusus.

 

Selain berdampak pada lingkungan, kabut asap juga berdampak pada perekonomian di Riau. Setidaknya terdapat lima sektor-sektor kunci di Riau yang terdampak dari kabut asap, yaitu sektor perdagangan, sektor transportasi, sektor kuliner dan pariwisata, sektor pertanian dan perkebunan dan bahkan mencapai kerugian secara nasional. 

 

Simak informasi lengkap hasil penelitian pada dokumen berikut: Lembar Fakta_Seri Kabut Asap_Ekonomi

 

Publikasi Terbaru

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini