Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Hasil riset aksi yang dilakukan oleh tim Konsorsium Yayasan Women Research Institute (YWRI) dan Perkumpulan PENA mengenai potensi alam di Desa Riguk, Sintang, Kalimantan Barat yang dapat diolah dan dikembangkan oleh warga menemukan bahwa komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berpotensi adalah bunga rosela dan ubi ungu. Namun, pembudidayaan dan pengolahan komoditas tersebut awalnya masih sangat terbatas pada beberapa anggota kelompok saja dan masih dilakukan secara sederhana, sehingga berpotensi menjadi risiko yang menghambat dalam proses produksi.

 

Menindaklanjuti permasalahan tersebut, program Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan melakukan dua jenis intervensi yakni melalui penyediaan fasilitas penunjang produksi dan budidaya, serta melalui penguatan kapasitas kelompok perempuan.

 

Perempuan terlibat aktif dalam kegiatan kerja produktif di Riguk, Sintang, Kalimantan Barat, namun pada umumnya mereka “hanya membantu” pekerjaan suami menoreh pohon dan berladang. Konsorsium YWRI dan Perkumpulan Pena mendorong para perempuan di Riguk untuk berorganisasi dan membantu kelompok sebagai salah satu kegiatan untuk meningkatkan akses perempuan dalam pengelolaan lahan untuk mengelola HHBK. Diharapkan dari adanya kelompok-kelompok kecil, dapat menunjang tujuan program, yakni penguatan kapasitas perempuan dalam pengelolaan lahan dan HHBK serta pemanfaatan sisa olahan. Melalui kelompok diharapkan juga terjadi peningkatan kapasitas agar dapat meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pertemuan-pertemuan tingkat desa terkait rencana pembangunan desa.

 

Selain itu, dalam rangka  meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Riguk, terutama kelompok perempuan, Konsorsium YWRI di bawah proyek “Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan” menyelenggarakan sejumlah pelatihan bagi para anggot akelompok. Kegiatan peningkatan kapasitas yang telah dilangsungkan hingga saat ini mencakup Pelatihan Penyadaran Gender serta Pelatihan Budidaya Dan Teknik Pengolahan.

 

Kapasitas perempuan yang rendah dalam pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) disebabkan karena kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas belum memprioritaskan perempuan sebagai penerima manfaat. Hal ini terlihat, misalnya, dari terbatasnya pengetahuan dan kapasitas masyarakat perempuan terkait pengelolaan HHBK. Selain itu, perempuan juga terbatas dalam hal akses dan kontrol atas faktor-faktor produksi seperti mesin dan permodalan yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai tambah dari HHBK yang sebelumnya tidak mereka kelola dengan intensif maupun HHBK yang hanya mereka jual kepada pengepul/tengkulak sebagai bahan mentah bernilai ekonomi rendah.

 

Merespon lemahnya kapasitas masyarakat perempuan dalam budidaya maupun pengelolaan HHBK, maka program ini menitikberatkan peningkatan kapasitas bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya yang sebelumnya belum menjadi sasaran kegiatan peningkatan kapasitas.

 

Salah satu hambatan dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan adalah ketidaksetaraan gender dan sosial yang menyebabkan munculnya ekslusi sosial dan gender. Keuntungan dan capaian dari program-program pembangunan tak terkecuali program pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan belum dapat dinikmati secara adil dan setara, khususnya oleh perempuan dan kelompok rentan lainnya dalam masyarakat. Oleh karenanya, upaya inklusi gender menjadi sangat penting untuk memastikan kesuksesan suatu program.

 

Dari studi awal yang dilakukan YWRI diperoleh gambaran bahwa perempuan terlibat dalam kerja-kerja produktif pertanian sebagaimana dengan laki-laki, khususnya dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Meski demikian, manfaat yang diterima oleh perempuan belum signifikan dan belum memberi manfaat ekonomi yang menyejahterakan karena keterlibatan mereka masih rendah dalam hal pengambilan keputusan baik di tingkat keluarga maupun di tingkat komunitas.

 

Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 15 kecamatan dengan topografi wilayah berbukit-bukit dan dialiri oleh 18 sungai. Kondisi permukaan lahan di Kabupaten Pesisir Selatan didominasi oleh lahan hutan (83,91%) selebihnya adalah lahan sawah, perkebunan serta pemukiman warga.  Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan masyarakat berada pada lokasi potensial untuk mengembangkannya secara berkelanjutan. Kecamatan IV Jurai di Kabupaten Pesisir Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki peruntuhan lahan dengan hutan nagara terbanyak dari luasan kecamatan 37,83%.  Lahan hutan tersebut diperuntukkan sebagai hutan nagari dan beberapa lahan hutan sudah dikonversi pada usaha pengelolaan sumber daya alam oleh perusahaan.

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini