Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sejak kuliah di Universitas Indonesia Lisabona sudah aktif berorganisasi. Bidang jurnalistik mulai ditekuninya, dari menjadi reporter di majalah kampus berlanjut ketika dia bekerja menjadi jurnalis pada Program Radio Jurnal Perempuan, bekerjasama dengan Internews Indonesia.

 

Persoalan perempuan mulai menjadi perhatiannya tatkala dia dipercaya mengelola paket program talk show bertema "Women and Human Rights" pada 1999. Hingga akhirnya Lisabona menyelesaikan delapan tema tentang persoalan perempuan untuk program radio tersebut. Satu tahun setelahnya, ia memulai sebuah tim penelitian dengan tema Sastra Eksil Indonesia, sebuah penelitian sejarah lisan yang terdiri atas wawancara dengan penulis Indonesia yang menjadi pengungsi politik di Eropa.

Aktif dalam gerakan perempuan sejak 1986, berawal dari bergiat di kelompok studi yang pada saat itu marak di kalangan mahasiswa. Mulai serius mendirikan kelompok perempuan bersama empat kawan karibnya, pada 1989 bernama Kelompok Kebangkitan Perempuan Indonesia yang kemudian pada perjalanannya menjadi Yayasan Perempuan Mardika.

 

Akhir tahun 2000, menyelesaikan studi S2 dalam women and development di ISS, Belanda. Edriana juga aktif menulis diberbagai kesempatan dan juga sebagai pembicara diforum-forum nasional maupun Internasional seperti Indonesia Update Seminar, Australia dan forum lainnya. 

Keterlibatan dalam gerakan perempuan, diawali 1984 dengan menekuni diskusi masalah buruh dan penggusuran. Kegiatan ini menggulirkan didirikannya organisasi perempuan Kalyanamitra pada 1985, dan menekuni pendidikan penyadaran gender. Keaktifannya di tingkat nasional sampai internasional, seperti menjadi anggota Asia Pacific Women, Law & Development (1988-1996), juga Global Fund for Women (1989-1996). Selain itu Sita juga menjadi pembicara dan berpartisipasi dalam beragam pertemuan seperti International Conference on Population & Development di Cairo 1994 juga the UN Women’s Conference di Beijing 1995. Pada 1996-1997, Sita melanjutkan studi S2-nya dalam bidang studi gender di London School for Economic & Social Science, Inggris. Bersama sejumlah kawan di Yogya, sepulangnya dari Inggris mendirikan lembaga pendidikan INSIST (Institut Ilmu Sosial Transformatif) pada 1997.

Sejak masih mahasiswa psikologi UI, Myra aktif mencurahkan perhatian pada isu perempuan dan feminisme, yang dituangkan dalam penyusunan skripsi (serta kemudian tesis S2) dan kegiatan diskusi bersama buruh perempuan di sekitar Jakarta. Pada 1985, mendirikan Kalyanamitra dan selama 12 tahun total menggiatkan agitasi dan penyadaran gender bagi aktivis dan intelektual dari berbagai lapisan sosial di bawah organisasi perempuan ini. Sampai-sampai julukan feminis radikal lekat di namanya. Selain itu, mendalami isu kekerasan terhadap perempuan secara khusus melalui kegiatan penelitian di sejumlah wilayah seperti NTT, Papua dsb.

 

Puncaknya, kepedulian tersebut dibuhulkan dalam pendirian sebuah crisis center Rumah Ibu pada 1996, yaitu wadah para korban kekerasan dalam rumahtangga, di mana Myra berperan sebagai konselor. Aktifitasnya sebagai ideolog tetap berlanjut, memerani fasilitator pada berbagai kegiatan pendidikan/penyadaran kritis yang sering dikenal sebagai analisis sosial, bekerjasama dengan bermacam organisasi masyarakat sipil (cso) beragam sektor di nyaris seluruh wilayah Indonesia.

Aktif sebagai staf pengajar fakultas sosiologi Universitas Indonesia dan sekarang sedang menyelesaikan studi S3-nya di Monash University Melbourne. Sebelum berangkat ke Melbourne Lugina menjabat ketua Kelompok Studi Wanita, Fisip Universitas Indonesia. Pada masa itu Lugina juga terlibat aktif menjadi pengajar dan pengelola Studi Kesehatan Reproduksi Perempuan, Fisip Universitas Indonesia.

 

Lugina pernah bekerja di Kapal Perempuan sebagai staf peneliti. Lugina juga aktif sebagai staf pengajar program Pascasarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia. Selain itu Lugina juga pernah menjabat sebagai konsultan gender di Partnership for Governance Reform.

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini