Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Dampak Konsesi Hutan terhadap Kehidupan Perempuan

    Data Global Forest Watch (GFW) mencatat hilangnya Tutupan Pohon di Lahan Gambut di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak, Riau. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya kebakaran hutan yang berangsur lama. Jumlah hutan yang terdegrasi proporsinya jauh lebih banyak dibandingkan hutan murni. Perempuan yang tergantung pada kondisi hutan akan mengalami dampak yang berkepanjangan di masa mendatang. Laju deforestasi yang semakin cepat per tahunnya di picu oleh banyaknya izin konsesi yang diberikan pada perusahaan-perusahaan perkebunan dan kehutanan, mengakibatkan akses masyarakat terhadap hutan dan sumber daya alam juga semakin terbatas.

Kelompok Remaja Peduli Kesehatan Reproduksi sebagai Upaya Penurunan AKI dan Pernikahan Dini

 

Tingginya Angka Kematian Ibu dan pernikahan dini mendorong Women Research Institute melakukan program advokasi mengenai hak pendidikan seksual dan hak kesehatan reproduksi seksual bagi remaja. Itu sebabnya sejak Juni 2013, WRI menjalankan sebuah program yang terkait dengan kesehatan reproduksi (kespro) remaja di wilayah Jakarta, Bandung, dan Gunungkidul. Namun, berbeda dengan Jakarta dan Bandung, program di Gunungkidul merupakan program lanjutan dari penelitian sebelumnya.

 

Hingga saat ini sudah ada beberapa perkembangan terkait program ini seperti penguatan kapasitas kelompok remaja, pemetaan masalah kespro remaja, pencarian kader dan fasilitator, seminar, dan diskusi.

 

Pemetaan Masalah Remaja di Gunungkidul, Jakarta dan Bandung

 

Berikut adalah hasil pemetaan masalah yang banyak dialami, khususnya remaja terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas:

1. Tingginya angka pernikahan dini. Rata-rata remaja usia 16-18 tahun sudah menikah. Pernikahan dini ini bisa disebabkan karena beberapa hal:

  • Budaya. Di Bandung, jika seseorang yang berusia 18 tahun belum menikah maka akan dianggap perawan tua.
  • Hamil sebelum menikah
  • Kurangnya pengetahuan mengenai seksualitas. Banyak remaja di wilayah-wilayah ini yang tidak tahu bahwa berhubungan seksual bisa menyebabkan kehamilan.
  • Faktor ekonomi/keterbatasan biaya yang menyebabkan banyak remaja langsung dinikahkan begitu mereka lulus SD atau SMP. 
  • Akses pendidikan yang belum memadai dan putus sekolah.

2. Narkoba

3. HIV/AIDS

4. Angka Kematian Ibu (AKI) tinggi yang juga dipengaruhi oleh banyaknya perempuan yang melahirkan di usia muda (di bawah 20 tahun)

5. Minimnya pelayanan Jamkesmas

6. Pelayanan kesehatan tidak bisa mengakomodir kebutuhan remaja akan kespro dan informasi mengenai kespro.


Gunungkidul

 

Sebagai langkah awal, WRI mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Gunungkidul pada 18 September 2013. Diskusi ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang forum remaja di Gunungkidul yang melakukan penguatan remaja, khususnya untuk isu kesehatan reproduksi. Kegiatan ini dihadiri oleh 6 lembaga yaitu PIKR Kartanu, PIKR Al Hikmah, PIKR Tunas Harapan, PIKR Bendungan, LSPP, dan Kelas Remaja Putri. Dari 6 organisasi yang hadir, empat diantaranya sudah aktif melakukan kegiatan penyuluhan, peer conselling dan kegiatan pemberdayaan remaja lainnya, sedangkan dua organisasi lainnya merupakan organisasi baru yang masih dalam tahap perumusan program kerja.


Namun demikian keenam lembaga ini memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan kualitas pemuda di Gunungkidul, baik dari segi pengetahuan maupun kemampuan. Mereka sudah secara rutin melakukan kegiatan penguatan remaja walau masih banyak menemukan kendala seperti kendala pendanaan, sumber daya manusia, waktu, dan sebagainya. Selain itu, kegiatan dan program yang dimiliki masih sebatas menjawab kebutuhan praktis remaja di Gunungkidul, keenam organisasi belum memiliki konsen ke arah strategis untuk memberikan masukan maupun advokasi kepada pemerintah daerah terkait kebijakan dan anggaran untuk pemuda. Oleh karenanya mereka membutuhkan masukan baik materil maupun non materil untuk menunjang dan memperbaiki performa mereka untuk pemberdayaan remaja di Gunungkidul.


Dari kondisi tersebut, Women Research Institute melakukan penguatan terhadap organisasi tersebut, misalnya dengan memberikan capacity building sesuai dengan tema yang dibutuhkan masing-masing organisasi. Selain itu WRI juga bisa membantu memberikan pendidikan tentang advokasi kepada remaja sekaligus mendampingi selama proses advokasi remaja kepada pemerintah daerah terkait kebijakan dan anggaran.


Pada Februari 2014 program untuk Gunungkidul mulai dilakukan. Kegiatan analisis kelompok remaja sudah dilakukan dan sudah dipilih tiga kelompok yang akan bermitra dengan program WRI. Tiga kelompok tersebut yaitu Pokak Lincah Ceria (Police) di Desa Karangawen, Kelas Remaja Putri (KRP) di Desa Ponjong dan PIK-R Bening Hati di Pondok Pesantren Al-Hikmah Desa Karangmojo. Selanjutnya kelompok-kelompok remaja ini akan melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah dicanangkan dengan bimbingan WRI.


Jakarta dan Bandung

 

Sedikit berbeda dengan program di Gunungkidul yang sudah memiliki beberapa kelompok remaja sebagai wadah advokasi, Jakarta dan Bandung masih belum memiliki sarana prasarana tersebut pada awalnya. WRI memulai program di dua kota besar ini dengan melakukan pemetaan terhadap masalah kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi remaja.

 

Di Bandung, kegiatan pemetaan masalah dimulai pada Oktober 2013 bekerjasama dengan Koordinator Wilayah Kabupaten Bandung. WRI mengunjungi 5 organisasi di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, seperti Sapa Institute, PIKR (sebuah organisasi bentukan BKKBN) Kabupaten Bandung dan Kecamatan Solokan Jeruk, Forum Diskusi Anggaran (FDA), PKBI Jawa Barat, dan Media Citra Remaja (MCR).


Hasil dari penilaian terhadap pemetaan masalah kespro di wilayah Bandung ini, pada 14 November 2013 WRI menyelenggarakan seminar “Hak Pendidikan Seks & Kesehatan Reproduksi Remaja”. Seminar ini ditujukan untuk memperkaya informasi kondisi kesehatan reproduksi remaja di Bandung. Oleh sebab itu organisasi-organisasi remaja dan LSM di Kota Bandung yang memiliki fokus kerja pada isu seksualitas, reproduksi dan remaja diundang untuk menghadiri seminar ini.


Di Jakarta sendiri pemetaan juga mulai dilakukan di bulan Oktober, dengan mendatangi dua organisasi remaja yang yang bergerak di bidang pendidikan seksual dan reproduksi remaja yaitu Aliansi Remaja Independen (ARI) dan Rumah Panda FKM UI. Dan pada 18 Desember 2013 WRI menyelenggarakan seminar dengan tema yang sama di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan.


Sejak Januari 2014 pemetaan program dan rencana kegiatan yang lebih konkrit mulai dilakukan dibantu oleh fasilitator-fasilitator lapangan di wilayah Jakarta. Rencananya akan dibentuk beberapa kelompok remaja baik di sekolah dan di komunitas di wilayah ini. 

 

Artikel terkait:

Seminar Hak Pendidikan Seks & Kesehatan Reproduksi Remaja, Bandung, 14 November 2013

Seminar Hak Pendidikan Seks & Kesehatan Reproduksi Remaja, Jakarta, 18 Desember 2013

 

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini