Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Dampak Konsesi Hutan terhadap Kehidupan Perempuan

    Data Global Forest Watch (GFW) mencatat hilangnya Tutupan Pohon di Lahan Gambut di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak, Riau. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya kebakaran hutan yang berangsur lama. Jumlah hutan yang terdegrasi proporsinya jauh lebih banyak dibandingkan hutan murni. Perempuan yang tergantung pada kondisi hutan akan mengalami dampak yang berkepanjangan di masa mendatang. Laju deforestasi yang semakin cepat per tahunnya di picu oleh banyaknya izin konsesi yang diberikan pada perusahaan-perusahaan perkebunan dan kehutanan, mengakibatkan akses masyarakat terhadap hutan dan sumber daya alam juga semakin terbatas.

Secara umum korupsi berdampak pada pemiskinan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Namun demikian dalam kondisi miskin,  perempuan  dengan kekhasan dan potensi organ reproduksi yang dimiliki  ditambah dengan tanggung jawab yang diberikan masyarat norma sosial yang berlaku dimasyarakat dalam memandang perempuan, menjadikan perempuan memiliki kerentanan yang berbeda dengan laki-laki. Dalam kondisi miskin masyarakat memiliki akses yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, seperti  akses pada air bersih, akses pada makanan bergizi, akses pada pelayanan kesehatan pada umumnya,  serta keterbatasan akses pada pelayanan kesehatan reproduksi.         

 

Perempuan dengan potensi organ reproduksi yang dimiliki dapat hamil, melahirkan, dan menyusui . Fase-fase tersebut mensyaratkan terpenuhinya semua kebutuhan kesehatan mulai dari air bersih, makanan bergizi hingga layanan kesehatan. sementara korupsi menjauhkan seluruh kebutuhan tersebut dari masyarakat. Sehingga perempuan miskin yang tinggal di wilayah rural merupakan pihak yang lebih menderita dan secara langsung terkena dampak korupsi.

 

Temuan dari Survei Nasional Anti Korupsi dan Akuntabilitas Kesehatan yang dilakukan oleh USAID CEGAH pada 2017 menunjukkan bahwa penerimaan perempuan terkait suap adalah lebih tinggi dibandingkan dengan penerimaan laki-laki dengan perbandingan 34% dan 28%. Hal ini tentunya juga berkorelasi dengan perbedaan dampak korupsi  yang dihadapi oleh laki-laki dan perempuan. Tingginya persentase dari penerimaan perempuan dalam survei ini sangat mungkin berkaitan dengan fakta bahwa perempuan, khususnya ketika mereka adalah ibu rumah tangga, mereka bertanggung jawab pada kebutuhan pendidikan dan kesehatan keluarganya. Oleh karena itu, perempuan akan lebih sering berinteraksi dengan penyedia layanan publik, hal ini menyebabkan mereka lebih rentan menjadi korban dari pejabat korup ketika mereka sedang berupaya untuk memenuhi hak mereka maupun keluarga mereka.

Rita Kartika adalah tenaga medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik di Medan. Pada 19-20 Juli 2017, ia berkesempatan mengikuti pelatihan ‘Kesetaraan Gender/Pemberdayaan Perempuan dan Dampak Korupsi bagi Perempuan’ yang diselenggarakan di Kota Medan. Ia menerima pelatihan ini karena institusi tempatnya bekerja adalah mitra kerja ELSAKA Medan dalam bidang pencegahan korupsi di sektor kesehatan.

Perempuan yang akrab dipanggil Rita merupakan salah satu peserta pelatihan yang paling aktif. Ia tak sungkan ketika menyampaikan pendapat dan berbagi pengalamannya, khususnya terkait upaya pencegahan korupsi yang telah dilakukan oleh RSUP H. Adam Malik. Pada akhir pelatihan, Rita merupakan salah satu peserta yang mencapai peningkatan tertinggi untuk skor pengetahuan mengenai isu gender. Selain itu, ia juga merupakan peserta yang merasakan peningkatan kepercayaan diri atas penguasaan materinya tentang gender dan berkomitmen untuk mengimplementasikan ilmunya di tempat kerjanya.

Segera setelah mengikuti pelatihan ini, Rita mendapatkan kesempatan untuk mengimplementasikan pengetahuan barunya di tempat ia bekerja. Saat itu, RSUP H. Adam Malik baru saja melakukan proses rekrutmen dan bersiap menyambut pegawai baru yang sebagian besar adalah perawat perempuan. Melihat potensi untuk mendorong partisipasi perempuan dalam upaya pencegahan korupsi di sektor kesehatan, maka Rita mengusulkan integrasi materi pelatihan yang diikutinya ke dalam panduan yang akan diberikan oleh Pusat Belajar Anti Korupsi RSUP H. Adam Malik kepada setiap pegawai baru. Usulan ini kemudian diterima karena dianggap menjawab tantangan yang dihadapi tenaga medis di sektor kesehatan dalam kaitannya dengan korupsi.

Pelatihan Kesetaraan Gender/Pemberdayaan Perempuan dan Dampak Korupsi bagi Perempuan atas bantuan dari USAID CEGAH di Medan (Juli 2017) telah memberikan pemahaman dan kesadaran partisipan mengenai konsep dan implementasi kesetaraan gender serta intervensi pemberdayaan perempuan, khususnya dalam upaya pencegahan korupsi. Diikuti oleh 7 unsur Lembaga satuan kerja perangkat daerah dan 4 lembaga swadaya masyarakat, pelatihan ini kaya akan informasi pengalaman pencegahan anti korupsi dari berbagai sektor, yaitu kesehatan, lingkungan, pemerintahan dan pemberdayaan perempuan.

Publikasi Terbaru

  • Laporan Penelitian:Kajian Mendalam Perbedaan Dampak Korupsi Sektor Kesehatan pada Laki-laki dan Perempuan

    Yayasan Women Research Institute (WRI) dengan dukungan USAID CEGAH menyelenggarakan penelitian yang bertajuk Kajian Mendalam Dampak Korupsi Sektor Kesehatan pada Laki-laki dan Perempuan di Provinsi Banten dan Provinsi Maluku Utara pada tahun 2018. Sektor kesehatan dipilih sebagai fokus dari sektor yang akan dikaji dalam penelitian ini karena pemerintah memiliki lebih banyak program kesehatan untuk perempuan dibandingkan laki-laki, misalnya program kesehatan reproduksi, program kesehatan untuk...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini