Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Laporan Program Centre of Democratic Institutions, Australian National University

 

Aktifitas pengembangan kapasitas bagi staf WRI dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kompetensi dalam merumuskan, mengimplementasikan, dan mengawasi strategi yang sesuai dan dapat dijalankan serta mengevaluasi efeknya dalam suatu kurun waktu tertentu. Sebagai sebuah lembaga riset, staf WRI juga harus memiliki pengalaman yang cukup untuk mengimplementasikan penelitian kualitatif dan juga penelitian kuantitatif. Lebih lanjut, staf WRI juga harus memiliki kompetensi dalam melakukan analisis mendalam untuk dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kondisi dan posisi perempuan di Indonesia.

 

Tujuan Kegiatan:

  1. Meningkatkan pengetahuan mengenai Representasi Perempuan dalam Politik di Tingkat Internasional khususnya di Asia Pasifik dengan berpartisipasi dalam Pelatihan bagi Pelatih “Perempuan dalam Politik”.
  2. Menyampaikan pengetahuan yang spesifik secara konteks dan sensitif gender mengenai representasi perempuan dalam politik. Perhatian khusus akan diberikan untuk mengeksplorasi bagaimana kerangka konseptual dan teoretis, khususnya teori sosiokultural dan gender, dapat diaplikasikan dalam kebijakan dan intervensi. 
  3. Mengeksplorasi perspektif ini agar dapat diaplikasikan dalam penelitian, pelatihan, advokasi, perumusan kebijakan, dan evaluasi guna meningkatkan representasi perempuan dalam kepemimpinan politik.
  4. Membangun jaringan dengan peserta yang lain agar dapat memperluas pandangan dan meningkatkan akses staf WRI terhadap berbagi informasi melalui pertukaran informasi staf WRI dan peserta yang lain. 

 

Centre for Democratic Institutions (CDI) Gender dan Politik

 

Pemerintah Australia mendirikan CDI pada 1998. Lembaga ini didanai oleh Australian Agency for International Development (AusAID). Salah satu jalan yang ditempuh CDI dalam mempromosikan demokrasi adalah melalui penguatan parlemen dan partai-partai politik. CDI berfokus pada parlemen dan pengembangan partai politik, serta melaksanakan pelatihan unggulan dan penelitian yang terkait kebijakan-kebijakan di bidang ini.

 

Meningkatkan representasi perempuan dalam kepemimpinan politik adalah sebuah isu utama dalam keseluruhan program kerja CDI. Pada kenyataannya, Pasifik Selatan memiliki tingkat terendah di dunia untuk representasi perempuan di parlemen.

 

Meningkatkan representasi perempuan di kepemimpinan politik adalah isu utama dalam keseluruhan kerangka kerja CDI. Pada kenyataannya, Pasifik Selatan memiliki tingkat representasi perempuan di parlemen yang terendah di seluruh dunia.


CDI memprioritaskan kesetaraan gender di segala aktivitasnya. Tujuan utama dari program gender dan partisipasi politik CDI adalah untuk bekerja dengan negara-negara fokus guna menciptakan sebuah ruang sehingga perempuan dapat melakukan advokasi kebijakan,mencalonkan diri untuk jabatan politik, terpilih dan mampu memerintah secara efektif, serta berpartisipasi dengan penuh arti dalam setiap aspek kehidupan sipil dan politiknya. Hal ini mensyaratkan fokus atas relasi gender: peranan perempuan dan laki-laki, kewajiban dan pengambilan keputusan dalam hidup, dan isu-isu terkait kekuasaan dan kontrol. Melibatkan laki-laki dalam proses ini sepenuhnya penting.

 

Inaugurasi Pelatihan Perempuan dalam Politik, 10-14 November 2008, Canberra

 

Negara-negara Kepulauan Pasifik berjuang agar dapat terpilih di parlemen. Dengan menyadari bahwa berurusan dengan hambatan-hambatan partisipasi perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan akan memakan waktu, saat ini terdapat konsensus yang menyatakan bahwa kurangnya representasi perempuan di wilayah ini harus diatasi dengan segera.


Untuk tujuan ini, Inaugurasi Pelatihan Perempuan dalam Politik dengan judul “Melatih para Pelatih” dilaksanakan di Canberra. Pelatihan ini mendukung upaya-upaya pengembangan kapasitasnya yang sebelumnya telah dilakukan dan dirancang guna meningkatkan keterampilan para peserta dalam berbagai isu-isu kunci seperi cara-cara yang efektif dalam berurusan dengan isu-isu budaya dan kepemimpinan, dampak sistem pemilihan dan reformasi politik terhadap representasi perempuan, pro dan kontra mengenai kuota dan kursi yang ditetapkan, perbedaan-perbedaan gender dalam perilaku pemilih, mempengaruhi, melobi, mobilisasi, dan jaringan.

 

Terdapat 18 peserta dari delapan negara (Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Timor-Leste, Fiji, Indonesia, Indonesia, Kiribati, dan Tonga) yang berpartisipasi dalam pelatihan sepanjang satu pekan yang mencakup pelatihan bagi peserta dan pengembangan rencana tindakan (action plan). Diharapkan bahwa rencana tindakan yang dikembangkan selama pelatihan dapat menjadi dasar bagi pelatihan tingkat nasional di masa depan.

 

Bob McMullan, Sekretaris Parlemen Australia untuk Dukungan Pembangunan Internasional, membuka pelatihan ini. Pelatihan ini sepenuhnya didukung oleh partai-partai utama Australia, kalangan akademis, dan sektor-sektor swasta. Para anggota Parlemen Federal Australia menjalankan peran aktif dalam pelatihan ini. Diantara para pembicara adalah Anna Burke (Wakil Ketua MP), Senator Christine Milne (Wakil Pemimpin The Australian Greens), Senator Claire Moore (ALP), dan Senator Marise Payne (Partai Liberal Australia).


Semua peserta memegang peranan penting di parlemen nasional, pemerintah dan majelis daerah, pemerintah pusat, lembaga swadaya masyarakat atau sektor swasta di negaranya masing-masing. Partisipasi mereka diharapkan mampu membantu upaya mencapai tujuan untuk meningkatkan jumlah perempuan yang terpilih dalam pemilu-pemilu selanjutnya.


Pelatihan ini diselenggarakan oleh penasihat khusus CDI mengenai isu gender yaitu Dr. Sun-Hee Lee.

 

Hasil Kegiatan

  1. Penguatan perspektif teori kritis mengenai gender dan seksualitas dan pemahaman akan konteks sosiokultural, politik, dan sejarah mengenai perempuan dalam kepemimpinan politik sebagai sebuah isu khusus. 
  2. Kemampuan untuk mengeksplorasi perspektif ini yang dapat diaplikasikan salam penelitian, pelatihan, advokasi, perumusan kebijakan, dan evaluasi guna meningkatkan program representasi perempuan dalam politik di wilayah terkait.
  3. Jaringan yang terbentuk dengan para peserta lain agar dapat memperluas pandangan dan meningkatkan akses staf WRI terhadap berbagi informasi melalui pertukaran informasi staf WRI dan peserta yang lain.

 

Pencapain Program

 

Terdapat beberapa pencapaian program. Pertama, staf WRI telah meningkatkan kapasitasnya dalam bidang “Perempuan dalam Politik” dengan berpartisipasi dalam Pelatihan bagi Pelatih. Staf WRI juga mampu memiliki sensitifitas dalam menganalisis kondisi dan posisi perempuan terkait dengan isu gender serta menganalisis representasi perempuan dalam kepemimpinan politik dengan menggunakan perspektif gender. Selain itu, staf WRI juga memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari peserta yang datang dari negara lain di Asia Pasifik dengan berpartisipasi dalam Pelatihan bagi Pelatih dengan tema “Perempuan dalam Politik. Berpartisipasi dalam pelatihan ini juga telah membuka mata staf WRI dalam menganalisis relasi gender yang meliputi peranan laki-laki dan perempuan, kewajiban dan pengambilan keputusan dalam hidup, dan isu yang terkait dengan kekuasaan dan kontrol.

 

Kedua, staf WRI juga telah membangun jaringan dengan peserta-peserta yang lain. Staf WRI telah membangun jaringan pula dengan Australian National University dan CDI sebagai penyelenggara pelatihan dan konferensi ini. CDI adalah sebuah badan yang didanai oleh pemerintah yang mendukung upaya bagi demokrasi baru di wilayah Asia Pasifik guna memperkuat sistem politiknya. CDI menyediakan pelatihan, dukungan teknis, dan dukungan bagi anggota parlemen dan pemimpin di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan dengan fokus khusus yang meliputi Indonesia, Timor-Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, dan Fiji.

 

Dengan berpartisipasi dalam pelatihan ini, staf WRI mendapatkan kesempatan untuk dapat mengenal peserta-peserta lain yang sebagian besar memegang posisi penting di parlemen nasional, pemerintah dan majelis daerah, pemerintah pusat, lembaga swadaya masyarakat atau sektor swasta di negaranya masing-masing. Melalui jaringan ini, WRI bermaksud untuk membangun hubungan yang mampu menghasilkan strategi yang lebih baik dalam upaya meningkatkan kemampuan perempuan dalam menciptakan akses atas sumber daya khususnya dalam berurusan dengan penguasa lokal untuk menuntut partisipasi mereka.

 

Jaringan lain yang dapat dibangun oleh staf WRI adalah jaringan dengan beberapa peserta dari negara-negara Asia Pasifik yang meliputi para peserta dari Program Keadilan Masyarakat Australia-Fiji; Dewan Kota Lautoko di Fiji; Anggota Parlemen untuk Daerah Pemilihan Betio; Pemimpin PNG Women in Politics, Perwakilan Perempuan, dan Anggota Dewan MokuKolta di PNG; Pejabat Parlemen−Pejabat Bidang Pendidikan Masyarakat di Kepulauan Solomon; Para Pejabat Perempuan, Dewan Nasional Perempuan Kepulauan Solomon; Lembaga Swadaya Masyarakat Marie Stopes International dari Timor-Leste; Divisi Urusan Perempuan, Kementerian Pendidikan, Urusan Perempuan, dan Budaya; Jurnalis Post Newspaper dari Vanuatu, Pejabat Pendidikan Jarak Jauh/Gender, Kementerian Pendidikan Vanuatu; dan Pejabat dari Kementerian Keadilan dan Kesejahteraan Sosial Vanuatu.

 

Para peserta dari berbagai organisasi ini telah berbagi pengalaman mengenai berbagai isu yang terkait dengan fokus mereka. Staf WRI mendapatkan pengalaman mengenai isu perempuan dalam politik. Kegiatan ini juga meningkatkan kapasitas dan pengetahuan staf WRI dalam berurusan dengan isu-isu budaya dan kepemimpinan, dampak sistem pemilihan dan reformasi politik terhadap representasi perempuan, pro dan kontra kuota partai dan kursi yang ditetapkan, perbedaan gender dalam perilaku pemilih, serta upaya mempengaruhi, melobi, dan memobilisasi sumber daya dan jaringan. ***

 

 

 

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini