Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Selama hampir dua dekade, warga Kota Pekanbaru terpaksa hidup dalam kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda Provinsi Riau. Ditengarai bahwa serangan asap semakin memburuk dalam lima tahun terakhir. Serangan asap pada bulan Agustus 2015 sampai akhir tahun tersebut yang bertepatan dengan datangnya El Nino pun melumpuhkan kota Pekanbaru. Asap berbahaya yang merupakan campuran antara gas, partikel dan bahan kimia beracun lainnya menurunkan kualitas udara kota hingga ke tingkat sangat berbahaya sehingga mengancam kesehatan sekitar 1 juta penduduk kota Pekanbaru.

 

WRI dalam hal ini melakukan penelitian di tahun 2016 untuk melihat bagaimana dampak kebakaran dan kabut asap terhadap perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Dari berbagai dampak, WRI menemukan kasus-kasus yang dituliskan secara khusus.

 

Kebakaran berdampak langsung pada penurunan kualitas udara Kota Pekanbaru. Hal ini berakibat pada penyakit dan gangguan kesehatan. Dampak kabut asap bagi kesehatan manusia dipengaruhi oleh dua aspek yaitu konsentrasi oksigen dan polutan yang mencemari udara. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, hasil FGD WRI di Kecamatan Rumbai menemukah bahwa beberapa bayi lahir dengan gangguan lemah jantung dan kebocoran katup jantung yang diindikasikan disebabkan oleh gangguan kehamilan yang dipengaruhi oleh kabut asap. 

 

Simak informasi lengkap hasil penelitian pada dokumen berikut: Lembar Fakta_Seri Kabut Asap_Kesehatan

 

Desa Pungkat, yang berada di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau merupakan desa yang dapat dicapai dengan waktu perjalanan 10 jam dari Pekanbaru. Akses dan fasilitas di Desa Pungkat terbatas pada jarak dan minimnya sarana-prasarana baik pada pelayanan umum maupun pelayanan kesehatan. Hal ini diperparah dengan masuknya perusahaan perkebunan kelapa sawit dan berdampak buruk pada akses masyarakat desa ke sumber daya alam. Salah satunya adalah air di sungai rawa yang dahulu bersih dan menjadi sumber kebutuhan air sehari-hari seperti mandi, mencuci dan mengambil air bersih untuk dikonsumsi kini tidak dapat digunakan lagi.

 

Masalah lain yang muncul adalah banyaknya serangan kumbang-kumbang terhadap perkebunan kelapa yang dimiliki masyarakat. Kumbang tersebut muncul dari sisa pohon yang membusuk setelah ditebang perusahaan dan tidak dibuang. Namun perusahaan maupun pemerintah tidak melakukan tindakan untuk mengatasi serangkn tersebut sehingga masyarakat yang gagal panen kelapa harus kehilangan mata pencahariannya. Kini, para perempuan membantu perekonomian keluarga dengan berjualan.

 

Hutan, menjadi ekosistem yang berperan penting dalam menjaga stabilitas perputaran iklim sekaligus menaungi sebagian besar keanekaragaman hayati di dunia. Namun, saat ini keberlangsungan ekosistem hutan Indonesia kian terancam. Peristiwa kebakaran hutan seolah menjadi bencana iklim tahunan yang sudah dimaklumi oleh masyarakat,khususnya di daerah Sumatera, Kalimantan dan Papua yang merasakan dampak kabut asap hasil pembakaran hutan dan lahan. 

 

Tercatat, pada periode 2010 - 2014, rata-rata luasan lahan tutupan pohon yang hilang setiap tahunnya adalah sebesar 1,5 juta hektar. Kondisi ini tidak sebanding dengan laju reforestasi yang terjadi di Indonesia adalah 866,75 ribu hektar per tahun. Dengan tidak seimbangnya laju deforestrasi dan reforestasi tersebut, hutan Indonesia kian lama akan semakin gundul dan kondisi perubahan iklim di dunia pun akan semakin berdampak buruk.

 

WRI dalam hal ini melakukan penelitian di tahun 2016 untuk melihat bagaimana dampak kebakaran dan kabut asap terhadap perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Dari berbagai dampak, WRI menemukan kasus-kasus yang dituliskan secara khusus.

 

Kabut asap di Riau adalah bencana yang berkepanjangan dan berdampak serius pada hampir seluruh sektor kehidupan. Salah satu sektor yang paling berdampak adalah sektor pendidikan. WRI dalam hal ini melakukan penelitian di tahun 2016 untuk melihat bagaimana dampak kebakaran dan kabut asap terhadap perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Dari berbagai dampak, WRI menemukan kasus-kasus yang dituliskan secara khusus.

 

Kabut asap yang melanda provinsi Riau selama hampir 3 bulan di tahun 2015 membuat lebih dari 1,5 juta anak sekolah harus mengalami gangguan belajar akibat asap. Hilangnya jam pelajaran karena kondisi lingkungan yang tidak kondusif untuk kegiatan belajar mengajar membuat sektor ini merugi. Selain kerugian hilangnya jam belajar anak, kajian awal dampak kabut asap terhadap perekonomian Riau tercatat menimbulkan kerugian sebesar 20 miliar rupiah.

 

Hasil penelitian menunjukkan terdapat berbagai persoalan yang dihadapi siswa ketika sekolah diliburkan. Halini menjadi dilema bagi para pendidik dalam melaksanakan tugas dan perannya. Melihat persoalan tersebut, diidentifikasi juga bagaimana respon pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menangani dampak kabut asap di bidang pendidikan. Tidak hanya itu, penelitian juga mengidentifikasi bagaimana penanganan dampak kabut asap terhadap sektor pendidikan pada saat pasca bencana.

 

Simak informasi lengkap hasil penelitian pada dokumen berikut: Lembar Fakta_Seri Kabut Asap_Pendidikan

 

Pada September 2015, Bank Indonesia mengumumkan hasil assessment mereka bahwa dampak kabut asap terhadap peningkatan harga karena terganggunya jalur distribusi kebutuhan pokok melalui darat, sungai dan laut belum begitu serius. Meski begitu, dalam Focus Group Discussion dan Multi Stakeholder Forum yang dilakukan oleh Women Research Institute setahun kemudian dengan kelompok masyarakat di tiga tempat berbeda, terungkap bahwa mayoritas partisipan merasakan adanya peningkatan harga barang kebutuhan pokok serta penurunan omzet para pengusaha kecil dan juga gangguan pada komoditas pertanian. 

 

WRI dalam hal ini melakukan penelitian di tahun 2016 untuk melihat bagaimana dampak kebakaran dan kabut asap terhadap perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima dampak dari bencana tersebut yaitu berdampak pada lingkungan, kesehatan, pendidikan, anggaran dan ekonomi. Dari berbagai dampak, WRI menemukan kasus-kasus yang dituliskan secara khusus.

 

Selain berdampak pada lingkungan, kabut asap juga berdampak pada perekonomian di Riau. Setidaknya terdapat lima sektor-sektor kunci di Riau yang terdampak dari kabut asap, yaitu sektor perdagangan, sektor transportasi, sektor kuliner dan pariwisata, sektor pertanian dan perkebunan dan bahkan mencapai kerugian secara nasional. 

 

Simak informasi lengkap hasil penelitian pada dokumen berikut: Lembar Fakta_Seri Kabut Asap_Ekonomi