Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Program ini merupakan program pengembangan kapasitas dalam menguatkan kemampuan advokasi yang bertujuan untuk membantu Kementerian Kesehatan dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi, dan anak. Salah satu strategi yang ditempuh adalah menyelenggarakan pelatihan untuk para pelatih (training of trainers) yang ditargetkan untuk para fasilitator advokasi di tingkat nasional, provinsi, dan daerah. Para pelatih ini adalah orang-orang yang terlibat dalam implementasi Pelatihan Advokasi di 15 daerah pada tahun 2007 sebagai co-fasilitator dan para pejabat dari Kementerian Kesehatan dan Departemen Kesehatan Daerah.

 

Program ini dilaksanakan oleh Boy Fidro, Edriana Noerdin, dan Sita Aripurnami, yang bertanggung jawab untuk fasilitasi Training of Trainers. Program ini memfasilitasi pelatihan yang menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran untuk orang dewasa.

  

Proses Pelatihan

Training of Trainers (TOT) ini secara umum menggarisbawahi dua aspek penting dalam memperbaiki kapasitas para pelatih atau fasilitator, yakni:

  • Masukan untuk latihan, yang membahas (1) Kondisi Pembelajaran dan (2) Konsep-konsep Dasar.
  • Praktik, yang membahas cara-cara menjadi fasilitator atau pelatih yang berkualitas.

 

Pelatihan tersebut diselenggarakan pada tanggal 12-15 Februari 2008 di Hotel Cemara, Jakarta, dan dihadiri oleh 20 peserta dari Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Banten, serta 4 PC dari Health Services Project (HSP).

 

12 Februari 2008

Pada hari pertama, para peserta belajar untuk memulai proses pelatihan atau fasilitasi, jadi para peserta siap untuk belajar dan masuk ke dalam zona belajar. Dalam sesi pertama pada siang tersebut, seluruh peserta belajar bagaimana melakukan perkenalan dengan sesama peserta, membangun konsensus terkait apa yang perlu dan tidak boleh dilakukan (do’s and don’ts) serta mencatat yang menjadi harapan dan ketakutan para peserta.

 

Dalam sesi kedua, seluruh peserta menyegarkan kembali pengetahuan mereka mengenai Advokasi. Presentasi mengenai advokasi dipresentasikan oleh Noor Alam dari HSP. Dalam sesi ini, seluruh peserta juga mendapatkan kesempatan untuk menonton video kisah kesuksesan daerah Sumedang dalam mengadvokasikan peraturan daerah MNCH. 

 

13 Februari 2008

Hari ini seluruh peserta memulai hari dengan aktivitas ice-breaking. Setelah aktivitas tersebut, para peserta disegarkan kembali pengetahuan mereka mengenai isu-isu MNCH. Pada hari kedua, para peserta juga belajar serta berbagi, tidak hanya tentang teknik fasilitasi partisipasi, namun juga mengenai teknik pembelajaran orang dewasa dan permainan untuk penyegaran dan ice-breaking.

 

Para peserta dilatih dengan menggunakan teknik-teknik fasilitasi partisipasi melalui diskusi kelompok dengan teknik seperti mind map (peta pikiran) dan shopping around. Teknik-teknik ini memungkinkan peserta belajar lebih dari satu topik serta membantu mereka berpikir secara logis.

 

Pada sore harinya, para peserta belajar dari sharing yang dilakukan oleh Pak Nandang Suherman (Sumedang), Pak Mulyadih (Bogor) dan Pak Suhendi (Serang) untuk mempelajari pengalaman ketiga peserta ini terkait advokasi.

 

14 Februari 2008

Pada hari ketiga, para peserta memulai dengan melakukan review dengan menggunakan teknik kreatif. Para peserta saling meneruskan sebuah bola yang di dalamnya terdapat kertas-kertas bertuliskan kata-kata kunci yang didiskusikan pada hari kedua. Saat lagu dihentikan, bola harus berhenti diputarkan juga dan peserta yang memegang bola tersebut harus mengeluarkan kertasnya dan menjelaskan makna dari kata kunci yang terdapat di kertas tersebut.

 

Hari itu para peserta dilatih untuk merencanakan dan merancang sebuah kurikulum pelatihan yang merujuk pada modul yang telah dikembangkan secara bersama oleh Women Research Institute, Health Support Project, dan Kementerian Kesehatan. Hasilnya cukup baik, para peserta dapat menghasilkan sejumlah teknik dalam mengangkat topik dalam setiap sesi, misalnya dengan menggunakan role play untuk memahami isu kematian ibu dan anak.

 

15 Februari 2008

Pada hari terakhir, para peserta melanjutkan diskusi terkait sesi perencanaan dan perancangan kurikulum pelatihan. Di penghujung hari tersebut, setelah fasilitator mempresentasikan rekapitulasi dari proses pelatihan, seluruh peserta diminta untuk menyampaikan evaluasi mereka mengenai pelatihan tersebut. Berikut adalah penjabaran dari evaluasi para peserta.

 

Evaluasi

 

Secara umum, evaluasi peserta mencakup tiga poin, yakni:

  • Proses fasilitasi

Seluruh peserta merasa bahwa proses fasilitasi berjalan dengan sangat baik. Mereka dapat belajar bagaimana melakukan pelaksanaan pelatihan melalui observasi cara ketiga fasilitator mengorganisir dan melangsungkan pelatihan tersebut. Para peserta terinspirasi oleh kerja sama kuat yang ditunjukkan para fasilitator dan sikap mereka kepada para peserta selama pelatihan. Namun, manajemen waktu dan tempat untuk pelaksanaan pelatihan perlu ditingkatkan di masa depan.

 

  • Materi Pelatihan

Mayoritas peserta merasa bahwa materi pelatihan sangat membantu kerja mereka di masa mendatang sebagai fasilitator. Namun, mereka berharap bahwa di masa mendatang akan disediakan sebuah buku panduan, terutama mengenai aktivitas games untuk membantu mereka memfasilitasi dalam daerah atau kota mereka.

 

Pelajaran yang Didapatkan

  • Seluruh peserta dapat memperbaharui pengetahuan mereka mengenai advokasi, isu MNCH, metode pembelajaran orang dewasa, dan menjadi lebih sadar mengenai pentingnya data MNCH di setiap desa/kota.
  • Seluruh peserta bertukar skill dan pengalaman mereka terkait teknik fasilitasi serta merefleksi kembali teknik proses fasilitasi mereka.
  • Peserta dapat mempelajari beberapa inovasi dan kreativitas baru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
  • Peserta dapat mempelajari fungsi permainan yang digunakan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
  • Peserta dapat mempelajari pengemasan pesan-pesan advokasi yang kuat.
  • Peserta dapat menyadari pentingnya memilah dengan cermat media yang tepat dan pentingnya mengembangkan jaringan dengan media, agar strategi advokasi dapat menjadi lebih efektif.

 

Hasil

Ada beberapa hasil yang didapatkan dari pelatihan ini, diantaranya:

  1. Teknik fasilitasi partisipatif yang merujuk pada konsep pembelajaran orang dewasa, serta saran-saran untuk menangani permasalahan yang didapatkan selama proses fasilitasi, termasuk teknik-teknik untuk membawa para peserta ke iklim pembelajaran.
  2. Handout presentasi terbaru terkait konsep advokasi dan isu Kematian Ibu dan Anak.
  3. Permainan yang dapat digunakan sebagai ice-breaker, penyemangat, pembentuk kelompok serta pengembangan iklim pembelajaran. Daftar permainan tersebut sebagai berikut:
    1. Permainan perkenalan: Tukar Properti
    2. Permainan untuk Penyemangat: Selada Buah, Gerak & Lagu, Hitungan, Gang Kecil & Jalan Raya, Ting, Tong, Ting-Tong dan Hajli Sapopo
    3. Permainan untuk formasi kelompok: Jempol, Dengkul, Siku dan Sekoci
    4. Simulasi untuk memperkenalkan para peserta ke topik: Bayi Mati
    5. Kapasitas dalam perencanaan pelatihan, termasuk pengetahuan untuk mengkorelasi konsep dasar, misalnya kematian ibu dan anak, serta teknik fasilitas partisipatif yang efektif untuk membantu para peserta memahami topik yang sedang mereka pelajari. Misalnya, menggunakan teknik role play (permainan peran) untuk membantu para peserta memahami topik kematian ibu dan anak secara lebih baik.
    6. Beberapa jenis teknik fasilitasi dalam sesi pelaksanaan pelatihan merujuk pada Modul Advokasi yang telah dipraktikkan di 15 desa/kota.
    7. Kapasitas dalam pelaksanaan fasilitasi yang merujuk pada metode Pembelajaran Dewasa.
    8. Terdapat sejumlah fasilitator yang siap menerapkan Pelatihan Advokasi dalam mengurangi tingkat kematian ibu dan anak di daerh-daerah terpilih di Indonesia.

 

Berdasarkan kriteria fasilitator yang baik (lihat Handout Fasilitator), sejumlah peserta pelatihan dinilai sudah siap untuk menangani proses fasilitasi di desa/kota terpilih. Namun, beberapa dari mereka perlu dipasangkan dengan fasilitator yang terlatih dan berperan sebagai co-fasilitator.

 

Saran

  1. Sebagai fasilitator, penting untuk memahami modul pelatihan sebelumnya.
  2. Dalam mengadakan pelatihan, fasilitator harus siap, tidak hanya dengan materi namun juga terkait persiapan teknis, misalnya luas ruangan, pengaturan ruangan, papan tulis, flip chart¸ dan sebagainya.
  3. Menjalin kerjasama yang baik antara para fasilitator dan mitranya, serta bekerja sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing selama proses fasilitasi.
  4. Membedakan peran fasilitator dan narasumber. Fasilitator perlu ingat bahwa peran mereka sebagai fasilitator.
  5. Meningkatkan jam terbang sebagai fasilitator.
  6. Fasilitator harus keluar dari zona nyaman serta menekan ego agar dapat menjadi lebih terbuka pada kritik dan masukan.
  7. Menggunakan teknik fasilitasi yang sesuai untuk menyampaikan materi, sehingga seluruh peserta dapat belajar dengan efektif. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini