Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Penelitian sosial dengan menggunakan teori feminis masih terbatas di Indonesia, hal ini disebabkan: Pertama, lembaga pengembang penelitian feminis masih sangat sedikit. Kedua, spesialis peneliti feminis masih langka. Ketiga, buku panduan penelitian feminis yang komprehensif dalam Bahasa Indonesia belum ada. Keempat, aplikasi teori penelitian feminis relatif berbeda dengan Penelitian Sosial lain yang bertolak dari paradigma positifistik dan dibutuhkan kepekaan serta pelatihan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, pelatihan bagi para peneliti yang tertarik menggunakan teori feministik dalam penelitian sosial merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera diadakan.


Prinsip penelitian feminis terletak pada tiga aspek, yakni pertama, filsafat ilmu dan paradigma sosial sebagai dasar pemahaman peserta pelatihan penelitian feminis dalam memposisikan penelitian feminis dalam paradigma sosial pada umumnya. Kedua, teori feminis sebagai alat untuk menganalisis permasalahan sosial yang diteliti. Ketiga, Metodologi penelitian feminis sebagai arah penelitian dari mulai merancang, melakukan, dan menganalisis data penelitian.


Sebagai lembaga penelitian yang khusus melakukan berbagai studi dalam bidang politik, sosial, budaya, dengan menggunakan analisa gender dan metodologi feminis, Women Research Institute (WRI) ingin membagi pengetahuan dan pengalaman penelitiannya dengan partner peneliti lokal. Hal ini terkait dengan penelitian yang tengah dilakukan tentang “Dampak Otonomi Daerah terhadap Partisipasi Politik Perempuan dalam Politik Lokal” dimana WRI banyak melibatkan peneliti di daerah untuk bekerjasama.


Pelatihan Penelitian Feminis bertujuan membekali peneliti lokal WRI dalam menganalisis data penelitian, temuan-temuan di lapangan sekaligus untuk pengembangan konseptual kajian perempuan dan gender di Indonesia dalam penelitian sosial.


Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi dan latihan dengan pemateri:

  1. Dr. Kristi Poerwandari (Ketua Jurusan Kajian Wanita Program Pascaarjana UI)

  2. Sita Aripurnami, M.Sc (Direktur Eksekutif WRI)

  3. Edriana Noerdin, MA (Direktur Program WRI)

  4. Myra Diarsi, MA (Komisoner Komnas Perempuan dan Anggota Dewan Pendiri WRI)

  5. Tim Peneliti WRI Jakarta


Adapun peserta pelatihan adalah Peneliti Lokal WRI yang berada di Banda Aceh, Solok, Menado, Kupang, Mataram, Bali, Kebumen, dan Pontianak.


Pelatihan dilaksanakan dalam tiga hari, dibagi menjadi 3 sesi.


Sesi Pertama

Pengenalan awal diantara para peserta pelatihan. Sesi ini berbentuk Focus Group Discussion dengan fasilitator untuk memfasilitasi peserta dan Tim WRI berbagi pengalaman mengenai penelitian dan membicarakan aspek-aspek penelitian feminis yang telah dilakukan.


Tujuan sesi ini:

1. Berbagi informasi dan pengalaman penelitian (perjalanan penelitian, hambatan dan bantuan).

  • Pemetaan latar belakang dan kapasitas peserta sebagai peneliti sebagai dasar konsultasi/penugasan di hari ketiga.

  • Pemetaan faktor-faktor pendukung maupun hambatan dalam penelitian sebagai bahan evaluasi metodologi.

  • Pemetaan institusi lokal yang mendukung/menghambat jalannya penelitian.

2. Bertukar pengalaman melakukan penelitian dengan metodologi feminis.

3. Evaluasi metodologi dan instrumen penelitian untuk menjadi bahan penyesuaian metodologi di hari ketiga.

4. Mendapat masukan akhir tentang apa yang mereka harapkan dari pelatihan ini.


Sesi Kedua

Pembekalan materi dasar penelitian feminis

1. Pengantar: paradigma penelitian sosial (Positivistik, Interpretif dan Kritis)

2. Apa itu Penelitian Feminis, Ciri-ciri dan Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif)

3. Jenis-Jenis Penelitian: Feminist Interview Research Feminist Ethnography, dan Content Analysis Feminist)

4. Teknik Pengumpulan Data melalui wawancara mendalam dan FGD dan Analisis Data Kualitatif

5. Teori Feminis Postmodernisme dan Multikultural


Tujuan sesi ini:

  1. Mengenal dan mengaplikasikan Feminist Interview Research, Feminist Ethnography, dan Content Analysis Feminist
  2. Melakukan dan menganalisis data penelitian sosial dengan menggunakan perspektif feminis postmodernisme dan multikulturalisme


Sesi Ketiga

Latihan mengaplikasikan konsep dan teori. Disini para peneliti diajak untuk menganalisis data dan temuan penelitian yang diperolehnya dalam proses penelitian.


Tujuan sesi ini:

1. Menjawab pertanyaan penelitian WRI.

2. Peserta dan tim WRI melakukan analisis bersama atas data-data yang diperoleh peneliti lokal di setiap daerah.

3. Saling bertukar pandangan mengenai perspektif feminis dalam penelitian dan sosialisasi ide penelitian feminis yang ingin dibangun WRI.

 

2 September 2004

Dari pelaksanaan pelatihan Penelitian feminis diperoleh gambaran bahwa:

  1. Latar belakang pendidikan peneliti lokal yang beragam sangat mempengaruhi dalam proses pengumpulan data di lapangan.

  2. Pentingnya peneliti memahami penggunaan perspektif feminis sebagai alat penting guna mengidentifikasi masalah ketimpangan gender yang ada di masyarakat dan juga dalam proses analisa temuan data Penelitian yang ada. Beberapa peneliti masih sulit mengidentifikasi permasalahan yang ada di daerahnya.

  3. Peneliti masih banyak mengacu pada paradigma positivisme yang mensyaratkan adanya jarak antara peneliti dan objek yang diteliti. Sementara di sisi lain penelitian feminis justru percaya bahwa keberpihakan itu sangat penting, dan bahwa tidak ada penelitian yang benar-benar dapat dikatakan objektif--bebas dari subjektifitas penelitiannya.

  4. Keberpihakan pada perempuan penting untuk menyingkap ketidakadilan gender yang selama ini lebih banyak merugikan perempuan.

  5. Karenanya pembekalan pengetahuan tentang perspektif feminis teori-teori feminis yang terkait sangat penting dan perlu terus diasah dalam proses penelitian agar pengumpulan data dalam proses penelitian lebih mengakomodir situasi dan pengalaman perempuan sebagai sebuah data yang berguna dan penting, sama pentingnya dengan data situasi dan pengalaman laki-laki.

  6. Selain itu ketersediaan bahan-bahan bacaan penunjang dalam upaya mengaplikasikan metodologi feminis juga perlu mendapatkan perhatian.

  7. Hasil akhir yang diharapkan dari pelatihan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan skill para peneliti lokal agar nantinya dapat mengidentifikasi kekurangan data penelitian yang tengah dilaksanakan serta mampu mengidentifikasi ulang permasalahan penting serta kendala-kendala yang dihadapi perempuan dalam upaya mendorong partisipasi politik di tingkat lokal.


3- 4 September 2004

Sesi 1 (Review Materi Hari Sebelumnya)

  1. Inti kegiatan adalah berbagi informasi dan pengalaman untuk mengevaluasi jalannya penelitian di masing-masing daerah.

  2. Pengelompokkan isu tidak berdasarkan pedoman wawancara, akan tetapi berdasarkan hasil wawancara atau temuan di lapangan

  3. Penulisan pelaporan akan dibahas pada workshop kedua

  4. Peserta pelatihan merasakan pentingnya pembahasan teori feminis secara mendalam

  5. Peneliti lokal kesulitan mendapatkan literatur dan membutuhkan millis sebagai media komunikasi di antara peneliti WRI lokal berikut dengan peneliti WRI Jakarta. Sebagai catatan, tidak semua peserta memiliki akses mudah terhadap internet, misalnya peneliti dari Solok.

  6. Jika di daerah penelitian tidak terdapat universitas atau perguruan tinggi (kasus Gianyar), maka yang laik dijadikan sebagai narasumber adalah mereka yang pernah melakukan penelitian di Gianyar. Selain itu, ketika menentukan narasumber, tidak perlu memusingkan kepatutan profesi.

 

Sesi Kedua - Dimensi-Dimensi Pengalaman Perempuan dan Penelitian Feminis


Sesi kedua merupakan lanjutan dari sesi pertama sekaligus menjawab persoalan-persoalan yang muncul pada sesi pertama dan lebih spesifik mengulas sekilas tentang teori feminis dan aplikasinya.


Secara khusus, terurai sebagai berikut:

Ketika orang mendengar kata feminisme cenderung berkonotasi negatif. Ada anggapan bahwa feminis adalah galak, menerobos tata sosial, melawan kodrat, perempuan dominan, mengada-ada masalah, radikal, persaingan, disharmoni, mau jadi laki-laki, dan menentang agama.


Apa itu feminisme? Feminisme adalah cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai manusia. Mereka mencoba menjawab persoalan-persoalan perempuan yang tidak bisa dijawab oleh pemikir sosial pada saat itu. Muncullah aliran feminis liberal untuk mendorong perempuan agar memiliki kesempatan yang sama di lingkup publik. Akan tetapi, persoalan perempuan bukan hanya di publik, tetapi juga di sector domestik. Misalnya, KDRT. Tahun 1970-an, muncul aliran feminis radikal yang bertumpu pada persoalan seksualitas perempuan yang didominasi oleh laki-laki.


Feminisme muncul pada abad 18 (Mary W.) sebagai reaksi atas kondisi saat itu yang hanya menempatkan perempuan di sektor domestik dan tidak ada hukum yang berpihak pada perempuan, termasuk dalam pendidikan. Jadi, isu persamaan pendidikan dan yang berkeadilan hukum menjadi titik tolak perjuangan feminis liberal dan hal itu masih berlaku sampai sekarang. Selanjutnya, Angel, melihat dari prasejarah sampai produksi perempuan tertinggal dari sisi ekonomi (Feminis sosialis) dan hal itu masih relevan dengan kondisi hari ini. Misalnya, kasus TKW.

 

Tahun 1970-an muncul kasus perkosaan di Amerika, dan menjadi isu sentral pemikiran feminis radikal dan memfokuskan diri pada isu seksualitas dan hal itu masih relevan dengan isu-isu reproduksi perempuan. Perjuangan perempuan dari abad 18 masih terjadi di Indonesia. Selain itu, muncullah feminis dunia ketiga, yakni muncullah penindasan dunia maju ke dunia ketiga, misalnya kasus alat kontrasepsi. Kasus lain, perempuan terkena dampak limbah, termasuk kasus Buyat. 

 

Feminis multikultural akan dijadikan sebagai alat analisis: kita memiliki nilai lokal yang berbeda dengan Jakarta. Misalnya, di Papua, jika suami mati, maka istri harus mengubur diri di lumpur. Feminis multikultural: menghargai nilai lokal dengan memegang nilai-nilai universal yang tidak menindas.


Ketika melihat masalah perempuan tidak linier akan tetapi berlapis-lapis. Perlu dipahami secara seksama bahwa masalah inti yang diperjuangkan kaum feminis adalah kedilan bukan gaya hidup.


Feminisme selalu lahir sebagai respon terhadap realitas sosial yang meminggirkan perempuan. Walaupun yang tercatat adalah fenomena sosial yang ada di barat, namun realitasnya ada kesamaan secara kontekstual/kesejarahan di berbagai wilayah negara dunia. Yang seringkali tertangkap oleh masyarakat pada umumnya adalah gaya hidup yang mengemuka di permukaan yang dianggap mewakili pemikiran feminisme, padahal secara substansial tidak mewakili esensi perjuangan feminisme.


Salah seorang peserta mempertanyakan tentang titik tolak adanya gerakan feminisme dari fenomena ketidakadilan yang dialami perempuan. Apakah arah feminisme adalah emansipasi perempuan ataukah perubahan sosial dan struktur yang ada di masyarakat agar perempuan lebih setara (kesetaraan gender)? Arah gerakan feminis? Gender? oposisi biner?


Perubahan yang bagaimana yang diinginkan, tidak sekedar ingin berubah, yang jelas, gerakan feminis berangkat dari konteks sosial. Alat ukur untuk melihat ragam isu adalah gender.


Apa itu gender?
Jawabannya beragam, yakni sebagai berikut: gender konstruksi sosial budaya, jenis kelamin yang dikonstruksi sosial, gender diartikan sebagai vagina, karakter yang dibentuk oleh kondisi sosial budaya masyarakat akibat perbedaan jenis kelamin, pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat bukan dari jenis kelamin, pembedaan jenis kelamin berdasarkan kondisi sosial bukan yang biologis, dan relasi kekuasaan antara perempuan dan laki-laki.


Bentukan sosial menghadirkan diskriminasi. Misalnya, perempuan itu lemah, sehingga perempuan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sifat/karakter yang berbeda antara perempuan dan laki-laki memiliki pengaruh yang besar atas akses mereka terhadap sumber daya ekonomi.


Bagaimana menggunakan gender sebagai tolak ukur? Untuk lebih jelasnya, perhatikan bagan berikut.

 

 

Perempuan

Laki-laki

Sifat/Karakter

Lemah

lembut, penurut, emosional tidak pintar/rasional, pasif

Kuat, rasional,

aktif ambil keputusan/memimpin

Ruang lingkup (mobilitas)

Domestik, private

Luas, ranah publik

Watak Kerja

Reproduktif (nafkah tambahan)

Produktif

Citra (Tampilan)

Subordinat (Dikuasai)

Menguasai

 

 

 

 

 

 

 

  1. Tolak ukur feminis adalah realitas sosial dan butir-butir dalam tabel dapat dipertukarkan akan tetapi dihambat oleh cara berpikir yang dikonstruksi secara sosial.

  2. Ketika berbicara gender banyak yang menolak dan susah karena berkaitan dengan dirinya sendiri. Hal itu berkaitan dengan relasi kekuasaan, yang sekaligus merupakan alat ukur bahwa the personal is political.

  3. Relevansi kajian hari ini dengan penelitian feminis adalah untuk melihat dan membongkar relasi kekuasaan antara perempuan dan laki-laki dalam konteks otoda, secara khusus berangkat dari pengalaman perempuan yang bisu.

 

  1. Hasil Identifikasi Isu Lokal

1. Solok

  • Masalah Adat: Secara adat perempuan berada pada posisi yang tinggi akan tetapi tidak memiliki hak untuk menentukan harta pusaka
  • Masalah Agama: Menurut penafsiran agama masalah pakaian adalah masalah personal dengan pencipta-Nya, tetapi pada realitas yang ada, ada kebijakan lokal yang mewajibkan pakaian muslim


2. Menado

  • Traficking (perempuan): Sudah ada perda dan Satuan Tugas dari berbagai komponen
  • Kekerasan (yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dan perempuan terhadap laki-laki)
  • Pendidikan
  • Perempuan dalam konteks budaya lokal


Tanggapan:

Lahirnya perda traficking harus dikaitkan dengan kondisi politik yang ada. Tolong dilihat lagi isi perdanya. Dan isu kekerasan dieksplor lebih jauh.


3. Gianyar

  • Gianyar terkenal dengan adat yang kuat
  • Anggapan perempuan kurang mau masuk dunia politik
  • Perempuan cenderung mengutamakan kepentingan umum
  • Kurangnya organisasi yang memperjuangkan perempuan
  • Tak banyak yang tahu soal otda, apalagi pengaruhnya
  • Ekonomi
  • Kesehatan reproduksi

 

Tanggapan:

  • Butir b, perlu dieksplorasi lebih jauh kasusnya sama dengan kasus Solok. 
  • Dalam hubungan relasi sosial, perempuan tidak memiliki wadah untuk pengambilan keputusan dan perempuan tidak pernah dilibatkan. Sebagai peneliti jangan berhenti dalam tataran sebagai ibu dan harus mencari keterkaitan antar variabel.
  • Perempuan Bali dianggap Kuat. Adakah isu dunia kerja yang didominasi oleh perempuan? Ada perubahan. Laki-laki mengambil posisi peran perempuan di sektor domestik dan perempuan bekerja di publik (dagang di pasar)
  • Apakah ada konflik di tataran domestik dan publik? Perlu dipertanyakan di lingkup yang lebih luas (masyarakat). Jangan menggeneralisasi sebagai informasi pembanding. 
  • Kaitannya dengan butir c. Pada Musbangdes, perempuan tidak pernah dilibatkan dan aspirasi perempuan bersifat untuk kepentingan umum. Ada 3 program yang digarap oleh musyawarah perempuan dan menginginkan adanya program yang ramah perempuan.


4. Mataram

  • Pendidikan (DO dan kawin muda: kawin lari)
  • Ekonomi (pekerja perempuan)
  • KDRT meningkat (data dari LBH APIK)
  • Slogan Kota=Agama, “Mataram Kota Ibadah” (simbol-simbol keagamaan dan akan diperdakan)
  • Raperda Anti Maksiat, salah satu isinya, “Barangsiapa di atas jam 10 berkeliaran di seputar hotel, maka akan ditangkap.”
  • Otda=pengangkatan orang lokal (pada tahun awal isu itu menguat dan terakhir menurun. Dalam kepemimpinan harus dipegang oleh orang lokal)


Tanggapan:

  • Penyediaan lapangan kerja untuk TKW harus ada yang mengatur UMR. 
  • Harus dicermati lebih jauh butir-butir isu yang diusung berikut kesalingterkaitannya.


5. Kupang

  • Budaya (patriarki: perempuan pengambil keputusan di ruang publik dan domestik. Publik (keputusan dan partisipasi politik) dan domestik (perkawinan dan Belis (mahar) ditentukan oleh paman
  • Agama (Ayat-ayat yang diskriminatif dan perempuan harus tunduk pada suami)
  • KDRT (Angka KDRT naik setiap tahun: pemerkosaan, incest, pemukulan dll.) 
  • RPK, perempuan tahu dari media dan sadar mau melapor
  • Kesehatan (Regulasi kesehatan perempuan belum ada, AKI tinggi dan biaya kesehatan tinggi)
  • Pendidikan (SD s/d SMU perempuan tinggi di perguruan tinggi perempuan kurang, beasiswa S2 lebih banyak untuk laki-laki
  • APBD
  • Pemberdayaan


Tanggapan:

  • Bagaimana agama berpengaruh? Hasil wawancara terungkap bahwa dalam hal belis dipengaruhi oleh budaya 
  • Perkawinan agama bukan berarti tidak mematok material dan perlu dicari keterkaitan antara belis, agama, dan budaya
  • Pernikahan adat sah meskipun belum kawin secara pemerintah
  • Adakah pola yang sama?
  • Apakah ada revitalisasi nilai adat di era otoda? Ada perubahan mengenai belis.
  • Belis menyebabkan munculnya Kumpul kebo? Ya


6. Kebumen

  • Budaya (Islam dan Jawa)
  • Partisipasi Publik


7. Banda Aceh

  • Pemimpin perempuan dalam budaya/sejarah
  • Penafsiran & pelaksanaan Syariat Islam
  • Pendidikan
  • Ruang ibu dan anak di ruang publik
  • Kecenderungan perempuan yang potensial bekerja di luar Aceh
  • Penafsiran feminis
  • Penyusunan APBD
  • Pengaruh konflik terhadap perempuan RSJ pasien melebihi kapasitas.


8. Pontianak

  • Pendidikan
  • Gerakan perempuan lokal (Bentukan CV untuk pemberdayaan perempuan)
  • Keinginan akan memunculkan perda buruh migran dan perda libur pada menstruasi hari pertama
  • Lembaga adat belum melibatkan perempuan dalam urun rembug dan hanya dibutuhkan pada saat kerusuhan
  • Isu kesehatan


Pembahasan Umum

1. Kategori penelitian meliputi:

1) Kesehatan

2) Pendidikan

3) APBD

4) Pemberdayaan:

  • hak ekonomi: kerja formal dan informal
  • Politik (akses keadilan dan gerakan perempuan)

5) Praktik revitalisasi adat dan agama,

6) Kekerasan terhadap Perempuan (publik dan domestik), dan

7) Dampak Konflik


2. Budaya dijadikan sebagai latar konteks secara umum dalam memahami fenomena yang muncul dalam wacana lokal.


Rencana Pendampingan

Rencana Pendampingan bertujuan:

  1. Untuk mengidentifikasi kekurangan informasi

  2. Mendiskusikan hal-hal yang dianggap penting


Dari pelaksanaan pelatihan Penelitian feminis ini diperoleh gambaran bahwa latar belakang pendidikan peneliti lokal yang beragam sangat mempengaruhi dalam proses pengumpulan data di lapangan. Sebagian besar peneliti belum memahami pentingnya penggunaan perspektif feminis sebagai alat penting guna mengidentifikasi masalah ketimpangan gender yang ada di masyarakat dan juga dalam proses analisa temuan data Penelitian yang ada. Akibatnya masih banyak peneliti yang sulit untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada di daerahnya.


Peneliti masih banyak mengacu pada paradigma positivisme yang mensyaratkan adanya jarak antara peneliti dan objek yang diteliti. Sementara di sisi lain penelitian feminis justru percaya bahwa keberpihakan itu sangat penting, dan bahwa tidak ada penelitian yang benar-benar dapat dikatakan objektif—bebas dari subjektifitas penelitinya. Keberpihakan pada perempuan penting untuk menyingkap ketidakadilan gender yang selama ini lebih banyak merugikan perempuan.


Karenanya pembekalan pengetahuan tentang perspektif feminis teori-teori feminis yang terkait sangat penting dan perlu terus diasah dalam proses penelitian agar pengumpulan data dalam proses penelitian lebih mengakomodir situasi dan pengalaman perempuan sebagai sebuah data yang berguna dan penting sama pentingnya dengan data situasi dan pengalaman laki-laki. Selain itu ketersediaan bahan-bahan bacaan penunjang dalam upaya mengaplikasikan metodologi feminis juga perlu mendapatkan perhatian.


Hasil akhir yang diharapkan dari pelatihan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan skill para peneliti lokal agar nantinya dapat mengidentifikasi kekurangan data penelitian yang tengah dilaksanakan serta mampu mengidentifikasi ulang permasalahan penting serta kendala-kendala yang dihadapi perempuan dalam upaya mendorong partisipasi politik di tingkat lokal.

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini